Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
No Result
View All Result
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
Sabtu, April 18, 2026
No Result
View All Result
Inside Politik
No Result
View All Result
Home Pemerintahan

Mengapa Politik Identitas Masih Ampuh di Daerah 

Melda by Melda
Januari 10, 2026
in Pemerintahan
Mengapa Politik Identitas Masih Ampuh di Daerah 

INSIDE POLITIK– Politik identitas kembali menunjukkan daya tahannya dalam berbagai kontestasi politik daerah di Indonesia. Dari pemilihan kepala daerah hingga dinamika kebijakan lokal, isu agama, etnis, dan kedaerahan masih kerap menjadi alat mobilisasi yang efektif. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa politik identitas masih ampuh di daerah, meski demokrasi telah berjalan lebih dari dua dekade?

Apa yang dimaksud dengan politik identitas merujuk pada strategi politik yang menekankan kesamaan atau perbedaan identitas sosial—seperti agama, suku, ras, atau budaya—untuk membangun dukungan politik. Dalam konteks Indonesia, politik identitas sering muncul dalam bentuk narasi “kami” versus “mereka”, yang disederhanakan agar mudah diterima oleh pemilih akar rumput.

BACA JUGA

Dinamika Pilkada dan Tantangan Netralitas Aparatur

Politik Kebijakan Publik dan Dampaknya bagi Masyarakat

Siapa aktor di balik praktik ini umumnya adalah elite politik lokal, tim sukses, hingga tokoh informal yang memiliki pengaruh sosial. Mereka memanfaatkan kedekatan emosional dan kultural dengan pemilih untuk menguatkan loyalitas. Di banyak daerah, figur kandidat tidak hanya dinilai dari program, tetapi dari kesamaan latar belakang identitas dengan pemilihnya.

Di mana politik identitas paling terasa biasanya di daerah dengan homogenitas tinggi atau sejarah konflik sosial yang belum sepenuhnya pulih. Wilayah dengan ketimpangan ekonomi dan akses informasi terbatas juga menjadi lahan subur. Minimnya literasi politik membuat narasi identitas lebih mudah diterima dibandingkan adu gagasan berbasis kebijakan.

Kapan strategi ini digunakan umumnya menjelang masa pemilu atau pilkada, saat kompetisi politik mengeras. Pada fase ini, sentimen identitas sering diproduksi ulang melalui media sosial, mimbar keagamaan, hingga percakapan sehari-hari. Momentum politik menjadi katalis yang mempercepat penyebaran pesan-pesan tersebut.

Mengapa politik identitas tetap efektif tidak bisa dilepaskan dari faktor struktural dan kultural. Secara struktural, desentralisasi pascareformasi memberi ruang besar bagi elite lokal untuk memainkan isu kedaerahan. Secara kultural, identitas masih menjadi sumber rasa aman dan solidaritas di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial. Ketika negara dianggap jauh, identitas lokal menjadi jangkar kepercayaan.

Bagaimana dampaknya terhadap demokrasi lokal menjadi persoalan serius. Di satu sisi, politik identitas dapat meningkatkan partisipasi politik karena pemilih merasa terwakili. Namun di sisi lain, ia berpotensi memecah belah masyarakat, mengikis rasionalitas pemilih, dan menurunkan kualitas kebijakan publik. Kontestasi berubah dari adu program menjadi adu sentimen.

Dari sisi hukum, politik identitas berada di wilayah abu-abu. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum melarang kampanye yang menghasut, memfitnah, atau mengadu domba berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 280 ayat (1) huruf c. Pelanggaran terhadap pasal tersebut dapat dikenai sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 521.

Selain itu, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juga mengatur larangan ujaran kebencian melalui Pasal 156 dan 156a, yang kerap dijadikan dasar penindakan jika politik identitas berubah menjadi provokasi. Namun, penegakan hukum sering terkendala pembuktian dan tekanan politik di tingkat lokal.

Kritik terhadap efektivitas penegakan hukum ini datang dari pengamat pemilu dan masyarakat sipil. Mereka menilai aparat cenderung reaktif dan baru bertindak setelah konflik meluas. Padahal, pencegahan melalui pendidikan politik dan pengawasan dini dinilai lebih efektif.

Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menggeser politik identitas menuju politik representasi yang sehat. Partai politik dan penyelenggara pemilu dituntut menghadirkan narasi kebijakan yang konkret dan mudah dipahami. Media juga memiliki peran penting untuk tidak sekadar mengutip pernyataan provokatif, tetapi memberi konteks dan verifikasi.

Politik identitas mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dari demokrasi Indonesia. Namun, tanpa upaya serius untuk membatasi dampak negatifnya, demokrasi lokal berisiko terjebak dalam siklus konflik yang berulang. Pertanyaannya bukan lagi apakah politik identitas akan terus digunakan, melainkan bagaimana negara dan masyarakat mengelolanya agar tidak merusak fondasi kebhinekaan.***

 

Source: tendri
Tags: demokrasi lokalhukum pemilupilkadapolitik identitas
Previous Post

DPD PDI Perjuangan Sumut Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD, Dinilai Rampas Kedaulatan Rakyat

Next Post

Politik Bansos Jelang Pemilu

Related Posts

Dinamika Pilkada dan Tantangan Netralitas Aparatur
Pemerintahan

Dinamika Pilkada dan Tantangan Netralitas Aparatur

Maret 5, 2026
Politik Kebijakan Publik dan Dampaknya bagi Masyarakat
Pemerintahan

Politik Kebijakan Publik dan Dampaknya bagi Masyarakat

Maret 4, 2026
Mengapa Debat Capres Tak Bermutu
Pemerintahan

Mengapa Debat Capres Tak Bermutu

Februari 28, 2026
Politik Lingkungan yang Tak Populer
Pemerintahan

Politik Lingkungan yang Tak Populer

Februari 27, 2026
Mengapa KPK Jadi Arena Rebutan
Pemerintahan

Mengapa KPK Jadi Arena Rebutan

Februari 24, 2026
Manuver Ketua Umum di Tahun Politik
Pemerintahan

Manuver Ketua Umum di Tahun Politik

Februari 24, 2026
Next Post
Politik Bansos Jelang Pemilu

Politik Bansos Jelang Pemilu

Antologi ‘Kota Kelabu’ Diluncurkan dan Pembacaan Puisi ‘Kenduri Sumatera’

Antologi ‘Kota Kelabu’ Diluncurkan dan Pembacaan Puisi ‘Kenduri Sumatera’

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Apresiasi Pendekatan Seni Budaya Kodam XXI/Radin Inten Pererat TNI dan Masyarakat

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Apresiasi Pendekatan Seni Budaya Kodam XXI/Radin Inten Pererat TNI dan Masyarakat

Dinasti Politik dan Masa Depan Demokrasi Lokal

Dinasti Politik dan Masa Depan Demokrasi Lokal

Mengapa Kritik

Mengapa Kritik

POPULAR NEWS

KIM Plus di Pilkada Jakarta Terancam Bubar oleh Putusan MK

Skenario KIM Plus di Pilgub Lampung, RMD Diatas Angin, Arinal dan Umar Terancam?

Agustus 8, 2024
Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Agustus 6, 2024
Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

September 11, 2025
Malam Ini DPP Golkar Gelar Pleno Plt Ketum Golkar Pengganti Airlangga

AMBIGU!Sudah Rekomendasikan Arinal, Golkar Kembali Usulkan Tiga Nama Kader Pendamping RMD

Agustus 7, 2024
PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

April 10, 2025

EDITOR'S PICK

Nurhasanah Ajak Srikandi TP Sriwijaya Lampung Tetap Solid, Siap Bergerak Menuju Indonesia Emas 2045

Nurhasanah Ajak Srikandi TP Sriwijaya Lampung Tetap Solid, Siap Bergerak Menuju Indonesia Emas 2045

Juni 26, 2025
Aparat Pekon Apresiasi Sosialisasi PTSL, BPN Pringsewu Dorong Kemudahan Pemahaman Masyarakat

Aparat Pekon Apresiasi Sosialisasi PTSL, BPN Pringsewu Dorong Kemudahan Pemahaman Masyarakat

Oktober 2, 2025
Pecah Kongsi dengan Qomaru, Wahdi Pilih Ahmad Mufti

Wahdi-Qomaru Gugat Putusan KPU Metro ke MA

November 22, 2024
Pekon Sedayu Gelar Tradisi Bersih Desa, Wujudkan Rasa Syukur dan Kebersamaan

Pekon Sedayu Gelar Tradisi Bersih Desa, Wujudkan Rasa Syukur dan Kebersamaan

Mei 12, 2025
https://insidepolitik.com/wp-content/uploads/2024/07/Suara-Muda-Suara-Cerdas.mp3

About

Follow us

Kategori

  • Analisa
  • Bandar Lampung
  • casino
  • Daerah
  • E-Paper
  • Lampung
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Luar Negeri
  • Mesuji
  • Metro
  • Nasional
  • Ngakak Politik
  • Parlemen
  • Pemerintahan
  • Pesawaran
  • Pringsewu
  • Tanggamus
  • Tulang Bawang
  • Uncategorized

Recent Posts

  • Mostbet reputasiyasına zərər verən hallar: Sosial media və mənfi rəylərin rolu
  • Hilirisasi Kelapa di Enggano Jadi Harapan Baru Petani Lokal
  • Pemprov Lampung Ajak Mahasiswa Jadi Motor Transformasi Digital
  • Disdikbud Lampung Rotasi 51 Kepala Sekolah, Dorong Mutu Pendidikan

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

No Result
View All Result
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In