INSIDE POLITIK- Dunia sastra Lampung kembali bergeliat di awal 2026. Antologi puisi “Kota Kelabu” resmi diluncurkan bersamaan dengan pembacaan puisi dari buku terbaru “Kenduri Sumatera” karya Isbedy Stiawan ZS. Agenda sastra ini digelar di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung (GTT TBL), Kamis, 15 Januari 2026, dan menjadi ruang temu antara penyair senior dan generasi muda Lampung.
Dua Agenda Sastra dalam Satu Panggung
Peluncuran antologi puisi “Kota Kelabu” dan pembacaan puisi “Kenduri Sumatera” dikemas dalam satu rangkaian acara bertajuk “Satu Hari Satu Panggung”. Kegiatan ini diinisiasi Komunitas Penulis Muda Lampung (KPML) bekerja sama dengan Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.
Acara dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, menghadirkan diskusi sastra, pembacaan puisi, serta interaksi langsung antara penulis, penyair, dan penikmat sastra di Lampung. Kehadiran dua buku ini sekaligus menandai dinamika sastra Lampung yang terus bergerak, baik dari sisi regenerasi maupun penguatan tema-tema sosial.
Kenduri Sumatera, Puisi-Puisi tentang Bencana dan Ingatan
Isbedy Stiawan ZS menjelaskan bahwa buku puisi “Kenduri Sumatera” memuat 29 puisi dengan tema utama bencana, khususnya yang terjadi di wilayah Sumatera. Buku tersebut diterbitkan oleh Siger Publisher dan akan dijual langsung kepada pengunjung pada saat acara.
“Puisi-puisi dalam Kenduri Sumatera lahir dari kegelisahan dan ingatan kolektif atas bencana. Sumatera menyimpan banyak cerita luka, dan puisi menjadi cara saya mencatatnya,” ujar Isbedy.
Ia mengungkapkan bahwa ide penerbitan buku ini berawal dari saran Lukman Hakim Daldiri, yang mendorongnya untuk mengumpulkan puisi-puisi bertema bencana, sebagaimana dulu ia pernah menulis buku “Negeri Sepatu” dengan latar Orde Baru menjelang Reformasi.
“Kebetulan puisi-puisi bertema bencana sudah cukup banyak. Saya pikir, kenapa tidak disatukan saja. Akhirnya saran itu saya sepakati dan lahirlah Kenduri Sumatera,” kata Isbedy.
Selain buku puisi, Isbedy juga merilis kumpulan esai berjudul “Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain”, yang menghimpun 20 esai hasil catatan selama lima bulan dan sebelumnya tayang di Lontar.co.
Pembacaan Puisi dan Nama-Nama yang Tampil
Pembacaan puisi “Kenduri Sumatera” akan dibuka oleh Dzafira Adelia Putri Isbedy. Setelah itu, Isbedy Stiawan ZS dijadwalkan membacakan sekitar tujuh puisi, di antaranya berjudul “Halo”, “Pesan Singkat”, dan “Perjalanan Pulang”.
“Puisi lainnya, saksikan langsung di TBL,” ucap Isbedy singkat, memberi isyarat kejutan bagi penonton.
Kota Kelabu dan Regenerasi Penyair Muda Lampung
Sementara itu, peluncuran antologi puisi “Kota Kelabu” menjadi panggung penting bagi anggota Generasi 6 Komunitas Penulis Muda Lampung. Pelaksana acara, Anggi Farhans, menyebut antologi ini sebagai bentuk apresiasi sekaligus penanda pertumbuhan sastra di kalangan anak muda.
“Peluncuran Kota Kelabu adalah penghargaan bagi proses kreatif teman-teman Generasi 6 KPML. Ini bukti bahwa sastra di kalangan generasi muda Lampung terus tumbuh,” kata Anggi, Sabtu, 10 Januari 2026.
Anggi yang juga bertindak sebagai editor antologi tersebut menjelaskan bahwa pada acara peluncuran, para penulis muda akan membacakan karya mereka secara langsung di hadapan publik.
“Harapannya, kehadiran mereka bisa menambah barisan penyair Lampung di khasanah sastra Indonesia. Mereka adalah kader generasi baru sastra Lampung,” ujarnya.
Dari Lumbung Penyair ke Harapan Baru
Anggi menyinggung bahwa regenerasi penyair di Lampung sempat mengalami stagnasi. Padahal, Lampung pernah dijuluki Nirwan Dewanto sebagai Lumbung Penyair.
“Melalui Kota Kelabu, Generasi 6 KPML diharapkan menjadi harapan bersama untuk kembali menumbuhkan kepenyairan di Lampung, agar lebih subur dan semarak,” katanya.
Antologi “Kota Kelabu” dilengkapi pengantar dari Isbedy Stiawan ZS, yang juga akan hadir sebagai pemantik diskusi sastra. Selain Isbedy, sejumlah nama dalam antologi ini digadang-gadang menjadi wajah baru kepenyairan Lampung dan Indonesia.
Mereka antara lain Nada Ayunda Safira, Qv (Cykal Qv Ichiya Putri), Salwa Pramesti Maharani, Tauqan Kiram Jaya Prawira, Fitria Novita Rahma, Nurul Arifah, Kansa Maida, Reni Jayanti, Lutfi Maulidia, Vira A. Safitri, Kyra Nura, Holiq Bae, Siti Dewi N.W., Siti Hardila, Nurfa, Any, Zii, Boemi Nala, hingga Anggi Farhans.***




















