(Politik Sepakbola – Antara Rumput, Rapat, dan Harapan)
INSIDE POLITIK — Harapan rakyat Indonesia untuk melihat bendera merah putih berkibar di Piala Dunia lagi-lagi harus disimpan di laci mimpi. Timnas Indonesia resmi gagal lolos, dan seperti biasa, PSSI tampil dengan pernyataan klasik: “Kami sudah berjuang maksimal.”
Kalimat yang sama, intonasi yang sama, bahkan mungkin template PowerPoint-nya juga sama. Tiap kali gagal, selalu ada “evaluasi total” yang bunyinya lebih cepat daripada pemain sayap melakukan overlap. Bedanya, kalau pemain berlari, evaluasi PSSI berjalan. Pelan. Sekali.
Kegagalan ini sebenarnya bukan kejutan besar. Dalam sepakbola nasional, harapan tinggi sudah seperti kebiasaan tahunan — naik di awal, jatuh di tengah, hilang di akhir. Tapi anehnya, semangat berfoto di ruang konferensi tak pernah padam.
Seolah setiap kekalahan harus dirayakan dengan spanduk baru dan jargon segar: “Proyeksi Piala Dunia Selanjutnya.” Padahal yang lama belum jelas juntrungannya.
PSSI beralasan, Timnas sudah tampil baik, hanya saja “kurang beruntung”. Istilah “kurang beruntung” ini memang andalan abadi. Ia bisa dipakai untuk menutupi apa saja: dari strategi tanpa arah, program pembinaan yang tak jelas, sampai manajemen yang lebih sibuk mengatur pertemuan daripada latihan.
Setiap kali rakyat kecewa, PSSI menenangkan dengan kata “pembenahan jangka panjang”. Tapi entah kenapa, yang panjang justru proses menunggu hasilnya. Sementara itu, kursi pengurus berganti lebih cepat dari formasi tim inti.
Sepakbola Indonesia seperti drama yang tak pernah tamat. Ada babak awal penuh harapan, babak tengah penuh kebingungan, dan babak akhir yang diakhiri dengan janji pembaruan. Siklusnya berulang, bahkan penontonnya sudah bisa menebak ending-nya sebelum peluit akhir berbunyi.
Namun, rakyat tetap setia. Karena mencintai Timnas di Indonesia bukan soal hasil, tapi soal kebersamaan dalam kecewa. Dari Sabang sampai Merauke, semua ikut bersedih bersama — lalu kembali menonton pertandingan berikutnya dengan semangat baru dan harapan lama.
Dan di tengah semua itu, PSSI tetap tegar berdiri. Teguh di prinsip lama: kalau gagal, buat rapat. Kalau kalah, buat program. Kalau dikritik, buat konferensi.
Catatan Redaksi:
Mungkin suatu hari nanti, Indonesia benar-benar akan ke Piala Dunia. Tapi untuk sampai ke sana, yang perlu “dilatih” bukan cuma pemain — melainkan juga logika, integritas, dan niat baik dari mereka yang duduk di kursi pengambil keputusan.
Sebab, bagaimana mungkin kita bisa “whoosh” ke dunia, kalau di rumah sendiri masih sibuk rebutan bola di meja rapat?***




















