Ngakak Politik:
INSIDE POLITIK– Jagat politik lagi-lagi bikin rakyat ternganga sekaligus tertawa getir.
Kali ini bukan karena debat soal BBM atau kurs rupiah, tapi karena dua istilah hukum yang tiba-tiba jadi trending: amnesti untuk Hasto Kristiyanto dan abolisi untuk Tom Lembong.
Dua kata ini terdengar keren, berbau konstitusional, dan tentu saja — bisa bikin rakyat bingung.
“Amnesti itu kayak apa sih? Abolisi itu kayak temannya?” tanya seorang warga di warung kopi sambil mengira-ngira apakah dua istilah itu bisa juga dipakai untuk utang warung.
Konon, wacana amnesti muncul setelah Hasto dianggap terlalu ‘aktif berpendapat’, sementara Tom Lembong dinilai ‘aktif mengomentari’ — dua hal yang sebenarnya mirip, tapi dengan hasil yang beda: satu diundang rapat, satu diundang pemeriksaan.
Dalam sidang kabinet, seorang pejabat senior dilaporkan bergumam,
“Kalau begini terus, nanti semua orang minta amnesti, bahkan yang cuma telat bayar pajak motor.”
Menteri Hukum yang duduk di pojok hanya tersenyum lemas, sambil membuka buku tebal berjudul “Hukum di Tengah Drama Politik Indonesia: Edisi Baper.”
Rakyat, seperti biasa, menonton dari jauh sambil ngopi.
“Yang satu diampuni, yang satu dihapus, tapi yang salah masih jalan terus,” kata seorang bapak yang tampak sudah ahli membaca satire tanpa sadar.
Di media sosial, komentar warga lebih pedas daripada sambal pecel lele:
> “Amnesti dan abolisi itu kayak sinetron politik — ending-nya udah bisa ditebak, tapi tetap kita tonton karena lucu.”
> Yang lain menulis:
> “Kalau Hasto dapat amnesti, Tom dapat abolisi, rakyat kapan dapat diskon inflasi?”
Sementara itu, sumber istana menyebutkan bahwa wacana ini masih dalam tahap kajian.
Artinya, belum tentu terjadi — tapi sudah cukup bikin gaduh satu timeline.
Salah satu pengamat menilai, ini seperti trailer film politik yang tayang tanpa jadwal rilis.
Lucunya, beberapa pejabat daerah mulai ikut-ikutan.
“Kalau boleh, kami juga minta amnesti anggaran yang salah pakai tahun lalu,” ujar seorang bupati sambil tersenyum malu.
Rakyat pun tepuk tangan — bukan karena setuju, tapi karena kagum: tanggung jawab kini berubah jadi wacana pengampunan kolektif.
Pada akhirnya, rakyat cuma bisa berharap satu hal:
Kalau amnesti dan abolisi bisa diberikan untuk politikus, semoga versi rakyatnya juga segera keluar — biar kita semua bisa bebas dari drama tiap minggu di layar kaca.***




















