INSIDE POLITIK— Menjelang Konferda PDI Perjuangan yang digelar setiap lima tahun, gelombang kritik keras muncul dari kader senior partai di Lampung. Mereka menyoroti kondisi politik dan kepengurusan PDI Perjuangan yang dinilai mengalami stagnasi dan kekalahan beruntun dalam berbagai ajang politik, termasuk Pemilu Legislatif, Pilkada, dan Pilpres.
Dalam pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh sejumlah kader senior, terdapat beberapa sorotan utama yang dianggap menjadi penyebab menurunnya performa partai. Pertama, kinerja pengurus DPD selama masa bhakti 2020-2025 dipertanyakan. Kekalahan yang terus berulang dinilai sebagai cerminan buruknya manajemen internal dan kurangnya strategi politik yang adaptif terhadap dinamika Lampung.
Kedua, manajemen partai di Lampung dinilai terfragmentasi akibat adanya sekat dan pengkotak-kotakan kader di berbagai level kepengurusan. Kondisi ini dinilai menyebabkan komunikasi internal terganggu dan berdampak langsung pada perolehan suara partai di setiap ajang pemilu.
Ketiga, ketidakhadiran ketua DPD PDI Perjuangan Lampung dalam berbagai agenda politik partai menjadi sorotan serius. Para kader menilai kurangnya keterlibatan ketua DPD dalam pemilu dan kegiatan politik lainnya melemahkan eksistensi partai dan menimbulkan ketidakpercayaan di kalangan kader maupun publik.
Keempat, proses penjaringan calon ketua baru disebut bermasalah. Ada laporan adanya intimidasi atau tekanan terhadap fraksi dan jajaran PAC, yang dianggap mengganggu prinsip demokrasi internal partai. Hal ini memicu keresahan di kalangan kader yang berharap proses pemilihan ketua DPD berlangsung transparan dan adil.
Tulus Purnomo, salah satu kader senior dan penandatangan pernyataan ini, membenarkan isu tersebut. Ia mengatakan, “Iya benar, pernyataan sikap kader Banteng Lampung,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai langkah konkret yang akan ditempuh.
Berdasarkan kondisi ini, para kader senior menyimpulkan adanya indikasi kesalahan dalam kepemimpinan Ketua DPD Lampung periode 2020-2025. Sebagai tindak lanjut, mereka menyerukan tiga langkah strategis: evaluasi menyeluruh oleh DPP terhadap kinerja ketua DPD, pergantian kepemimpinan dengan tidak memberikan kesempatan bagi Sudin untuk menjabat kembali periode 2025-2030, dan penunjukan Sutono sebagai calon Ketua DPD baru. Sutono diharapkan mampu menyatukan seluruh komponen partai, memperkuat konsolidasi internal, dan memimpin PDI Perjuangan Lampung meraih kemenangan di pemilu mendatang.
Langkah ini diprediksi akan menambah dinamika politik yang cukup panas menjelang Konferda, sekaligus menjadi perhatian serius bagi publik dan media terkait arah politik PDI Perjuangan di Lampung.***




















