Ngakak Politik
INSIDE POLITIK— Menteri Purbaya lagi-lagi jadi bahan pembicaraan publik setelah menyoroti fenomena klasik: dana pemerintah daerah (Pemda) yang bukan dipakai untuk rakyat, tapi malah parkir manis di bank. Katanya, jumlahnya bukan main — triliunan rupiah ngendon di rekening, tidak jelas kapan mau dipakai.
“Uang daerahnya tidur nyenyak, sementara rakyatnya insomnia mikirin harga beras,” begitu kira-kira sindiran warganet di media sosial.
Fenomena ini seperti sinetron yang tak pernah tamat. Setiap tahun ada saja cerita dana Pemda yang disimpan di bank, entah karena proyek belum siap, takut salah belanja, atau karena, ya… “biar bunga jalan dulu.”
Ironisnya, Pemda yang uangnya diam di rekening ini seringkali daerah yang teriak paling kencang minta bantuan pusat.
“Katanya butuh anggaran tambahan, tapi rekeningnya malah gemuk,” ujar seorang ekonom yang tampak sudah lelah menjelaskan hal yang sama tiap tahun.
Di sisi lain, Menteri Purbaya tampaknya mulai kehabisan cara halus. Dalam beberapa kesempatan, ia mengingatkan kepala daerah agar tidak menjadikan APBD sebagai deposito abadi. Tapi ya namanya juga politik daerah, kadang lebih suka menunggu “waktu yang tepat” — entah waktu realisasi, waktu pilkada, atau waktu ganti kepala daerah.
Lucunya, ketika Purbaya menyebut “uang nganggur di bank” itu merugikan rakyat, beberapa pejabat daerah justru berkilah, “Kami bukan menimbun, kami hanya menabung.”
Tentu saja publik tertawa pahit mendengarnya. Karena yang ditabung bukan uang pribadi, tapi uang rakyat yang harusnya sudah berubah jadi jalan, sekolah, atau rumah sakit.
Di media sosial, muncul komentar sarkastik:
> “Dana Pemda di bank itu mungkin lagi ikut seminar motivasi ‘Cara Menjadi Uang Produktif Tanpa Keluar dari Rekening’.”
Sementara di lapangan, proyek-proyek pembangunan masih jalan di tempat — atau lebih tepatnya, belum jalan sama sekali.
Menteri Purbaya menegaskan, pemerintah pusat akan mengevaluasi kinerja keuangan daerah. Tapi seperti biasa, netizen lebih cepat bereaksi:
> “Evaluasi itu perlu, tapi yang lebih perlu lagi: kursi pijat buat uang APBD biar nggak kaku kelamaan duduk di bank.”
Dan begitulah nasib dana Pemda di negeri ini — lebih nyaman tidur di bank daripada bekerja di lapangan. Kalau uang bisa bicara, mungkin dia sudah bilang, “Maaf rakyat, saya belum cair karena lagi rebahan.”***




















