NGAKAK POLITIK
INSIDE POLITIK— Bullying di sekolah dan kampus seolah jadi PR yang tak kunjung selesai: setiap tahun muncul, tiap periode orientasi atau ospek baru saja usai, lalu berkali-kali jadi berita.
Di kampus-kampus seperti Universitas Udayana, misalnya, belakangan muncul indikasi kuat bahwa budaya senioritas dan ejekan verbal belum hilang — baik di ruang kelas, grup chat, maupun lorong kampus.
“Belajar” Bullying: Materi Wajib yang Tak Diajarkan di Kelas
Di sekolah dasar sampai perguruan tinggi, penelitian menunjukkan bahwa korban bullying sering punya prestasi yang menurun, absensi yang tinggi, serta kecemasan yang membayangi hari-harinya.
Di Universitas Udayana, ada penelitian internal tentang hubungan tindakan bullying dengan prestasi belajar—yang menemukan bahwa makin sering tindakan bully terjadi, makin besar dampak negatifnya terhadap korban.
Ironisnya, kampus dan sekolah sering menyebut ini “dinamika sosial” atau “tradisi orientasi” — padahal bagi korban, ini bukan tugas rumah, melainkan beban harian.
Senior Vs Junior: Drama Repetisi yang Tidak Lucu
Saat orientasi mahasiswa baru atau ospek, tema “senioritas” sering muncul: anggota himpunan tua yang ikut “mengasah” junior lewat tugas-tugas yang kadang di luar nalar.
Pelajaran yang muncul:
Junior belajar antisipasi — bukan mata kuliah, tapi bagaimana bertahan dari candaan “lucu” yang melukai.
Senior belajar kekuasaan — bukan literasi ilmiah, tapi bagaimana mempersulit orang lain karena merasa punya hak.
Di kampus seperti Udayana, indikasi ini muncul dalam bentuk grup chat yang berisi ejekan terhadap mahasiswa muda, komentar yang merendahkan, dan pengabaian terhadap rasa takut korban. Kampus pun mendapat tekanan publik agar sistemnya diperbaiki.
Mengapa “Bullying Politik” Wajib Disorot?
1. Bullying bukan cuma fisik — ejekan, sindiran, pengucilan sosial sama bahayanya, terutama di usia mahasiswa atau remaja yang sedang membangun identitas.
2. Lingkungan akademik harusnya tempat aman— bukan panggung di mana yang lebih kuat “uji coba” yang lebih lemah.
3. Budaya diam bisa jadi pelaku — ketika kampus hanya bilang “itu bukan masalah besar” maka korban sering merasa tak punya dukungan.
4. Respons terlambat lebih merusak — penelitian dan kasus menunjukkan bahwa dampak psikologis dari bullying bisa panjang, termasuk gangguan tidur, kecemasan, atau penurunan performa akademik.
Satir Redaksi: Ujian Bullying Populer Versi Kampus
> “Kelas kami sudah selesai UTS, tapi kelas ‘bertahan dari senior’ masih berjalan struktur semester panjang.”
> “Di grup chat himpunan tertulis tugas: ‘Siapkan mental!’ Padahal materi kuliah belum juga dibuka.”
> “Kampus bilang ‘mahasiswa bebas berekspresi’, tapi ekspresi kami yang kurang populer justru dibungkam dengan ejekan.”
Catatan Redaksi:
Kalau kampus adalah ladang ilmu, maka sebagian mahasiswa merasakan kampus jadi arena gladiator kecil — bukan soal debat ide, tetapi soal siapa yang kuat bertahan.
Jika orientasi atau ospek dirayakan sebagai “inisisasi”, maka saatnya kita tanya:
> Apakah inisisasi tersebut membentuk karakter, atau membentuk karakter takut?
Lingkungan pendidikan harus mengakhiri modus: “senior boleh main kasar, junior harus senyum”. Karena yang tertawa hari ini boleh jadi yang menahan trauma besok.***




















