INSIDE POLITIK– Persidangan sengketa ijazah Presiden Jokowi kembali jadi tontonan gratis. Roy Suryo cs, kali ini tampil lebih semangat daripada komentator sepak bola. “Bukti ini serius, bukan sekadar meme WhatsApp,” katanya sambil menenteng map tebal yang lebih mirip skripsi mahasiswa abadi.
Publik pun terbelah. Ada yang yakin ini upaya heroik menyelamatkan demokrasi. Ada juga yang bilang, “Ah, paling-paling nanti berakhir kayak sinetron 700 episode, ujungnya nggak jelas.”
Di ruang sidang, para pengacara debat soal font huruf di ijazah, tanda tangan rektor, hingga apakah kertasnya HVS atau folio bergaris. Rakyat kecil di luar gedung cuma geleng-geleng, “Kami ijazah paket C aja bisa buat kerja ojek online, ini ijazah presiden malah diributin setengah mati.”
Tak kalah seru, para politisi ikut numpang panggung. Ada yang bilang gugatan ini penting untuk sejarah bangsa, ada juga yang nyeletuk, “Sejarah apa? Ini lebih mirip lomba desain grafis tingkat RT.”
Sementara itu, rakyat yang sudah bosan drama politik berharap sidang ini cepat selesai. “Kalau memang palsu, ya kasih remedial ujian nasional. Kalau asli, ya sudah, jangan sampai APBN habis buat ngecek stempel sekolah,” ujar seorang pedagang nasi uduk di Tanah Abang.
Di ujung cerita, yang jelas kalah bukan cuma pihak yang digugat atau penggugat, tapi rakyat yang masih harus bayar harga cabai Rp 80 ribu per kilo.***




















