Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
No Result
View All Result
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
Sabtu, April 18, 2026
No Result
View All Result
Inside Politik
No Result
View All Result
Home Lampung Bandar Lampung

Penyair Muda Lampung Bongkar Misteri Dunia Pendidikan: “Sekolah di Istana Para Dewi”, Kritik Tajam atas Korupsi Moral dan Sistem

Melda by Melda
Oktober 13, 2025
in Bandar Lampung, Daerah
Penyair Muda Lampung Bongkar Misteri Dunia Pendidikan: “Sekolah di Istana Para Dewi”, Kritik Tajam atas Korupsi Moral dan Sistem

INSIDE POLITIK – Dunia sastra kembali berguncang setelah penyair muda asal Kota Bandar Lampung, Muhammad Alfariezie, merilis karya puisinya yang berjudul “Sekolah di Istana Para Dewi”. Penyair yang sebelumnya dikenal lewat novel pertamanya, “Rumah Darah”, kali ini tampil dengan gaya lebih berani dan politis. Ia menyoroti sisi gelap pendidikan Indonesia, terutama soal transparansi lembaga pendidikan yang terlibat dalam pengelolaan dana publik.

Alfariezie, yang akrab disapa Alfa, menulis puisi ini sebagai bentuk kegelisahan terhadap sistem pendidikan yang menurutnya telah kehilangan arah moral. Ia menggunakan simbol-simbol lembaga pendidikan dan kekuasaan untuk menggambarkan betapa dalamnya praktik korupsi dan ketimpangan sosial di balik narasi “sekolah gratis” dan “pemerataan pendidikan”.

BACA JUGA

Hilirisasi Kelapa di Enggano Jadi Harapan Baru Petani Lokal

Pemprov Lampung Ajak Mahasiswa Jadi Motor Transformasi Digital

Dalam karya ini, Alfa menciptakan formula yang menggambarkan akar masalah pendidikan di negeri ini:

Institusi Pendidikan + Kekuasaan + Misteri + Ironi Sosial = Kritik atas Korupsi Moral dan Sistemik

Ia kemudian merumuskannya kembali dalam bentuk simbol sosial yang lebih tajam:

(Yayasan + Anggaran Negara) – (Transparansi + Kejujuran) = Ketimpangan + Satire Sosial

Melalui dua rumus tersebut, Alfa memperlihatkan bahwa korupsi tidak hanya berbentuk uang, tetapi juga penyelewengan moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi dasar pendidikan.

Puisi “Sekolah di Istana Para Dewi” dibuka dengan nada satire yang lembut namun menohok. Ia menggambarkan Yayasan Prakarsa Bunda sebagai lembaga misterius yang menerima anggaran negara untuk membangun sekolah, namun tidak jelas keberadaannya, tidak diketahui siapa pemiliknya, bahkan tidak pasti apakah muridnya benar-benar ada.

Dalam bait-bait puisinya, penyair menulis:

Yayasa Prakarsa Bunda
entah di mana kantornya
tapi menerima anggaran
bangun sekolah dari
pemerintah meski belum
tentu muridnya resmi
berijazah

Mungkin kantornya di
kontrakan wali kota
sebab bisa jadi dia
yang punya

Barangkali sekretariatnya
di istana para dewi sebab
yayasan ini sungguh
bermisteri

Kami bertanya ke para guru
namun mereka enggak ada
yang tahu

Kami bertanya kepada murid
tapi perasaan seperti tergigit

Sekolah penerima APBD
yang katanya semua gratis
ternyata jual beli buku: sadis!

Yayasan Prakarsa Bunda
siapa yang punya?

2025

Puisi ini memadukan kritik sosial dengan gaya simbolik yang tajam. Melalui baris “entah di mana kantornya tapi menerima anggaran”, penyair menuding adanya praktik pengelolaan dana publik tanpa transparansi. Ia menyinggung realitas bahwa lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi benteng moral bangsa, justru kerap dijadikan alat proyek politik dan bisnis terselubung.

Kalimat “Barangkali sekretariatnya di istana para dewi” menyiratkan bahwa yayasan tersebut mungkin beroperasi di lingkaran kekuasaan, tempat para pejabat dan elit bernaung. Simbol “dewi” dalam konteks ini menggambarkan figur-figur yang berkuasa namun terselubung dalam kemewahan dan pengaruh, bukan dalam nilai moral dan integritas.

Bagian tengah puisi memperlihatkan absurditas sistem pendidikan: guru yang tidak tahu-menahu, murid yang kebingungan, dan sekolah yang seolah ada tapi sebenarnya hampa makna. “Kami bertanya kepada murid tapi perasaan seperti tergigit” menjadi representasi kehilangan arah moral dan intelektual dalam dunia pendidikan yang kian birokratis.

Larik “Sekolah penerima APBD yang katanya semua gratis ternyata jual beli buku: sadis!” menegaskan konflik utama dalam puisi ini — ironi atas pendidikan yang diklaim gratis tetapi masih menjadi ladang komersialisasi. Alfa menohok kebijakan publik yang menjanjikan keadilan, namun di lapangan justru menjadi beban bagi rakyat kecil.

Pertanyaan penutup, “Yayasan Prakarsa Bunda siapa yang punya?”, menjadi klimaks moral dari puisi ini. Pertanyaan sederhana itu justru paling kompleks: ia menggugat sistem, menuntut pertanggungjawaban, dan mempertanyakan siapa sebenarnya pemilik pendidikan — rakyat atau kekuasaan?

Alfa dengan cerdas mengubah puisi menjadi alat gugatan sosial. Ia mengajak publik melihat pendidikan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan ruang moral yang seharusnya menumbuhkan kejujuran dan kemanusiaan.

Bagi Alfa, pendidikan telah kehilangan maknanya ketika yayasan-yayasan fiktif dapat menerima anggaran tanpa transparansi. “Sekolah di Istana Para Dewi” pun menjadi simbol sindiran terhadap realitas di mana lembaga pendidikan lebih sibuk mengurus proyek ketimbang mencetak manusia berintegritas.

Dengan gaya satire yang puitis, puisi ini menggugah kesadaran publik bahwa korupsi moral tidak hanya terjadi di gedung pemerintahan, tetapi juga di ruang kelas, di balik papan nama yayasan, dan dalam setiap kebijakan yang memanfaatkan nama pendidikan untuk keuntungan pribadi.

Puisi ini bukan hanya karya sastra, tetapi manifesto perlawanan kultural terhadap rusaknya nilai kejujuran dalam sistem pendidikan. Ia mengingatkan bahwa selama pendidikan dijalankan tanpa hati nurani, negeri ini akan terus menghasilkan lulusan cerdas tetapi kehilangan moral.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Kritik SosialMuhammad Alfarieziepenyair muda Lampungpuisi satire pendidikanSastra LampungSekolah di Istana Para Dewiyayasan pendidikan
Previous Post

“99,9% Palsu? Temuan Novum atau Only Digital Drama?”

Next Post

Muhammad Alfariezie Buka Donasi untuk Novel Horor “Dusun Keramat Desa Sumber Muncul” – Sequel Mencekam dari “Rumah Terbengkalai”

Related Posts

Hilirisasi Kelapa di Enggano Jadi Harapan Baru Petani Lokal
Daerah

Hilirisasi Kelapa di Enggano Jadi Harapan Baru Petani Lokal

April 17, 2026
Pemprov Lampung Ajak Mahasiswa Jadi Motor Transformasi Digital
Bandar Lampung

Pemprov Lampung Ajak Mahasiswa Jadi Motor Transformasi Digital

April 17, 2026
Disdikbud Lampung Rotasi 51 Kepala Sekolah, Dorong Mutu Pendidikan
Bandar Lampung

Disdikbud Lampung Rotasi 51 Kepala Sekolah, Dorong Mutu Pendidikan

April 17, 2026
Pemprov Lampung Perkuat Sinergi dengan KPPU, Dorong Iklim Usaha Sehat
Bandar Lampung

Pemprov Lampung Perkuat Sinergi dengan KPPU, Dorong Iklim Usaha Sehat

April 17, 2026
Wagub Lampung Dorong Percepatan Penanganan TBC dan Renovasi Rumah Pasien
Bandar Lampung

Wagub Lampung Dorong Percepatan Penanganan TBC dan Renovasi Rumah Pasien

April 17, 2026
Gubernur Lampung Dorong Perempuan Pengusaha Perkuat Hilirisasi Ekonomi
Bandar Lampung

Gubernur Lampung Dorong Perempuan Pengusaha Perkuat Hilirisasi Ekonomi

April 17, 2026
Next Post
Muhammad Alfariezie Buka Donasi untuk Novel Horor “Dusun Keramat Desa Sumber Muncul” – Sequel Mencekam dari “Rumah Terbengkalai”

Muhammad Alfariezie Buka Donasi untuk Novel Horor “Dusun Keramat Desa Sumber Muncul” – Sequel Mencekam dari “Rumah Terbengkalai”

Lampung Perkuat Kemitraan Petani dan Industri Tapioka Hadapi Tekanan Harga Global

Lampung Perkuat Kemitraan Petani dan Industri Tapioka Hadapi Tekanan Harga Global

Tim Voli Putri Lampung Tembus Final Pornas Korpri 2025 Usai Kalahkan Kaltim

Tim Voli Putri Lampung Tembus Final Pornas Korpri 2025 Usai Kalahkan Kaltim

Cangget Turun Mandei di Lampung Timur, Simbol Pelestarian Adat dan Penguatan Identitas Daerah

Cangget Turun Mandei di Lampung Timur, Simbol Pelestarian Adat dan Penguatan Identitas Daerah

Pemprov Lampung Perluas Akses Keuangan Daerah, Dorong Visi Indonesia Emas 2045

Pemprov Lampung Perluas Akses Keuangan Daerah, Dorong Visi Indonesia Emas 2045

POPULAR NEWS

KIM Plus di Pilkada Jakarta Terancam Bubar oleh Putusan MK

Skenario KIM Plus di Pilgub Lampung, RMD Diatas Angin, Arinal dan Umar Terancam?

Agustus 8, 2024
Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Agustus 6, 2024
Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

September 11, 2025
Malam Ini DPP Golkar Gelar Pleno Plt Ketum Golkar Pengganti Airlangga

AMBIGU!Sudah Rekomendasikan Arinal, Golkar Kembali Usulkan Tiga Nama Kader Pendamping RMD

Agustus 7, 2024
PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

April 10, 2025

EDITOR'S PICK

Gugatan Sengketa Informasi Publik terhadap SMPN 1 Katibung Gugur, Pemohon Dinilai Tak Penuhi Syarat Legal Standing

Gugatan Sengketa Informasi Publik terhadap SMPN 1 Katibung Gugur, Pemohon Dinilai Tak Penuhi Syarat Legal Standing

April 25, 2025
Politik Kebijakan Publik dan Dampaknya bagi Masyarakat

Politik Kebijakan Publik dan Dampaknya bagi Masyarakat

Maret 4, 2026
Lampung Barat Ukir Sejarah: Raih Predikat WTP ke-15 Kali Berturut-turut dari BPK

Lampung Barat Ukir Sejarah: Raih Predikat WTP ke-15 Kali Berturut-turut dari BPK

Mei 26, 2025
Bupati Tanggamus Sambut Tim Penilai Adipura dan TPA Kalimiring dari Kementerian LHK

Bupati Tanggamus Sambut Tim Penilai Adipura dan TPA Kalimiring dari Kementerian LHK

Agustus 7, 2025
https://insidepolitik.com/wp-content/uploads/2024/07/Suara-Muda-Suara-Cerdas.mp3

About

Follow us

Kategori

  • Analisa
  • Bandar Lampung
  • casino
  • Daerah
  • E-Paper
  • Lampung
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Luar Negeri
  • Mesuji
  • Metro
  • Nasional
  • Ngakak Politik
  • Parlemen
  • Pemerintahan
  • Pesawaran
  • Pringsewu
  • Tanggamus
  • Tulang Bawang
  • Uncategorized

Recent Posts

  • Mostbet reputasiyasına zərər verən hallar: Sosial media və mənfi rəylərin rolu
  • Hilirisasi Kelapa di Enggano Jadi Harapan Baru Petani Lokal
  • Pemprov Lampung Ajak Mahasiswa Jadi Motor Transformasi Digital
  • Disdikbud Lampung Rotasi 51 Kepala Sekolah, Dorong Mutu Pendidikan

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

No Result
View All Result
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In