NGAKAK POLITIK
INSIDE POLITIK— Dunia perkeretaapian mendadak heboh ketika Prabowo Subianto meminta PT KAI menambah kapasitas kereta khusus petani dan pedagang. Katanya, kereta ini akan siap meluncur bulan ini.
Publik langsung penasaran:
“Ini kereta beneran apa program early access?”
Permintaan tersebut dianggap sebagai terobosan.
Terobosan apa?
Terobosan harapan, tentu saja.
Karena kalau beneran ada kereta khusus petani dan pedagang, maka Indonesia akan punya angkutan umum paling unik se-Asia Tenggara: pasar berjalan dengan kecepatan 60 km/jam.
Kereta Rakyat: Bawa Sayur, Beras, dan Optimisme?
Gambaran kereta ini langsung viral.
Netizen membayangkan gerbong yang diisi karung padi, kangkung segar, dan pedagang yang teriak harga sambil melaju di rel:
> “Bawang seribuu… merapat yang mau bawang seribuu… tahan dulu Pak Masinis, pembeli lagi naik!”
PT KAI kabarnya siap mempertimbangkan.
Bukan karena konsepnya cemerlang…
tapi karena setiap tahun ada saja ide politik yang lebih liar.
Petani: “Asal Nggak Macet Kayak Jalan ke Pasar.”
Petani menyambut baik ide ini, meski masih bingung:
“Kalau gerbongnya goyang, nanti cabai saya tumpah nggak?”
Pedagang juga berharap:
“Asal jangan nanti kereta khusus ini malah dipake buat kampanye keliling.”
Pengamat: “Gagasan Langka, Tapi Bukan yang Terlangka…”
Pengamat transportasi politik (alias warganet) memberi komentar pedas namun bermakna:
“Kalau kereta khusus petani ada, berarti nanti ada juga kereta khusus influencer?”
“Gerbong ekonomi aja kadang rebutan, ini mau nambah gerbong dagang. Mantap semangatnya!”
“Kalau keretanya mogok, apa boleh dibayar pakai hasil panen?”
Catatan Ngakak Politik
Di negeri penuh ide kreatif ini, kadang jalur kereta lebih lurus daripada jalur politik.
Kalau benar kereta khusus petani dan pedagang dirilis bulan ini, satu hal pasti:
Indonesia resmi punya inovasi baru — bukan teknologi tinggi, tapi harapan tinggi.
Dan seperti biasa…
kalau yang naik kereta ini adalah rakyat,
yang paling duluan sampai tetaplah janji politik.
Mau dibuatkan versi pojok kiri bawah, headline besar, atau ilustrasi satirnya?***




















