Ngakak Politik
INSIDE POLITIK– Presiden Prabowo Subianto kembali bikin suasana rapat kabinet jadi ramai.
Bukan karena marah, tapi karena sentilannya yang pedas manis seperti sambal terasi di warung Padang: “Menteri saya banyak yang S3, tapi kadang saya curiga, yang jalan cuma gelarnya, bukan logikanya.”
Kalimat itu langsung bikin ruangan rapat mendadak hening — seperti jaringan Wi-Fi yang tiba-tiba hilang sinyal.
Beberapa menteri yang punya gelar panjang langsung menunduk, pura-pura mencatat, padahal sedang googling arti sindiran Presiden.
Menurut sumber dalam istana, sindiran itu dilontarkan Prabowo karena kesal dengan lambannya kinerja beberapa kementerian.
“Banyak yang debatnya panjang banget, kayak nulis disertasi lagi,” ujar Prabowo sambil menepuk meja, bukan marah, tapi biar suasana gak ngantuk.
Rakyat yang mendengar kabar ini langsung ngakak sekaligus manggut-manggut.
“Soalnya bener juga, banyak yang S3 — Santai, Sibuk Selfie, Sama Sekali Susah Solusi,” kata warga di warung kopi, yang tampaknya juga punya gelar: S2 (Sering Sambil Sinis).
Di media sosial, netizen langsung heboh.
Ada yang bilang Prabowo sedang melakukan “audit akademik”, ada juga yang bilang ini sindiran halus buat menteri yang suka rapat tapi hasilnya cuma power point.
Salah satu komentar populer di X (Twitter) berbunyi:
“Kalau menteri S3 aja masih lemot, gimana yang baru S1: Sarjana Sibuk Seremoni?”
Beberapa menteri mencoba membela diri dengan mengatakan gelar akademik itu penting untuk memahami kompleksitas kebijakan.
Namun rakyat justru menanggapinya santai.
“Ya gapapa sih, asal kompleksitasnya jangan sampai bikin rakyat tambah kompleks hidupnya,” ujar pedagang gorengan sambil menatap minyak yang mulai gosong — mirip proyek yang kelamaan kajian.
Sementara itu, sumber lain mengatakan setelah rapat tersebut, suasana kabinet jadi lebih cair.
Beberapa menteri bahkan bercanda balik:
“Pak Presiden, nanti kami belajar S4 aja — Sadar Saat Salah Sendiri.”
Sindiran Prabowo ini mungkin tajam, tapi mengandung pesan mendalam:
Negara butuh solusi, bukan seminar.
Butuh tindakan, bukan transkrip nilai.
Dan mungkin, kalau semua menteri mulai “praktikum nyata”, Indonesia bisa lulus cum laude di mata rakyat.***




















