Ngakak Politik
INSIDE POLITIK— Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau yang akrab dipanggil “Whoosh” kembali jadi bahan omongan publik. Bukan karena kecepatannya yang bisa tembus 350 km/jam, tapi karena utangnya yang tembus logika.
Katanya sih, proyek kebanggaan nasional ini sudah “beroperasi positif”. Tapi setelah dihitung-hitung, yang positif cuma semangatnya — bukan saldo keuangannya. Pemerintah kini bahkan dikabarkan harus kembali bernegosiasi dengan pihak China untuk restrukturisasi pinjaman.
Alias, relnya memang lurus, tapi jalur pembayarannya mulai berkelok.
Dari “Bangga Dalam Negeri” ke “Berat Dalam Negeri”
Awalnya, proyek ini diluncurkan dengan gegap gempita: teknologi canggih, kerja sama internasional, dan simbol kemajuan bangsa. Tapi seiring waktu, rakyat mulai sadar kalau slogan “Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat” ternyata ada tambahan kecil di belakangnya: “Utang Menyala!”
Investasi proyek ini mencapai lebih dari tujuh miliar dolar AS. Itu angka yang bikin siapa pun mendadak rajin menghitung, bahkan yang biasanya malas buka kalkulator.
Dan meski sudah diperpanjang masa konsesinya hingga 60 tahun, kabarnya utang masih belum juga bisa tidur nyenyak.
Dari Cepat Jalan ke Cepat Bayar
Masalahnya bukan cuma di angka, tapi juga di penumpang. Target penumpang harian masih jauh dari harapan. Di atas kertas, kereta cepat ini harusnya penuh sesak — kenyataannya, banyak kursi masih sempat update status: “Sendiri lagi nih.”
Sementara itu, para ekonom mulai geleng-geleng kepala. Katanya, kalau proyek ini terus dibiarkan tanpa strategi jelas, bisa-bisa bukan cuma keretanya yang cepat, tapi juga laju defisitnya.
Namun, pemerintah tetap optimistis. Katanya, tidak ada dana APBN yang dipakai untuk menambal utang tersebut. Tapi rakyat yang dengar justru bingung: kalau bukan APBN, siapa yang bayar? Malaikat Investor Jibril, kah?
– Rakyat Komentarnya Pedas Tapi Lucu
Di media sosial, netizen seperti biasa jadi komentator paling kreatif.
Ada yang menulis:
> “Kereta cepat itu membanggakan, tapi bayar cicilannya bikin jantung ikut ngebut.”
Yang lain menimpali:
> “Kalau tiketnya mahal, ya wajar — mungkin setengahnya buat bayar bunga.”
Ada pula yang nyeletuk sinis:
> “Yang naik Whoosh memang cepat sampai Bandung, tapi uang rakyat belum tentu cepat balik.”
Catatan Redaksi: Rel Panjang, Ingatan Pendek
Kereta cepat Whoosh seharusnya jadi simbol kemajuan transportasi Indonesia. Tapi kalau proyek besar seperti ini masih bergantung pada utang yang terus direstrukturisasi, jangan heran kalau rakyat mulai menyebutnya: “Kereta Cepat, Negara Lambat.”
Dan bila utang terus bertambah sementara tiket tetap sepi, jangan-jangan nanti perlu inovasi baru: Whoosh PayLater— naik dulu, bayar setelah generasi berikutnya lahir.
Karena di negeri ini, kecepatan pembangunan sering dikalahkan oleh kecepatan tagihan.




















