NGAKAK POLITIK
INSIDE POLITIK— Pemerintah sudah berulang kali berjanji akan “memerangi judi online sampai ke akar-akarnya”. Tapi entah kenapa, akar yang dimaksud sepertinya bukan akar tanaman, melainkan akar ilusi — karena makin digali, justru makin tumbuh.
Judi online di Indonesia kini ibarat bintang sinetron: tiap episode dilarang, tapi selalu muncul lagi di musim berikutnya dengan nama baru, logo baru, dan bonus “new member” yang lebih menggoda.
Pemberantasan Judi Online: Kadang Ngebut, Kadang Ngantuk
Setiap kali aparat gencar menindak, publik selalu antusias. Situs-situs diblokir, server ditutup, rilis pers diumumkan dengan gagah. Tapi baru seminggu, aplikasi baru sudah muncul dengan nama beda satu huruf.
Lucunya, di tengah semangat pemerintah memberantas, masyarakat sering bingung membedakan antara aplikasi investasi, game online, dan… ya, judi online berkedok edukasi finansial.
“Dulu saya pikir itu game tebak skor sepak bola, ternyata dompet saya yang ditebak habis,” ujar seorang netizen di media sosial.
Dan ketika semangat penindakan mulai kendur, para bandar online langsung pesta pora. Iklan-iklan judi kembali bertebaran seperti bintang kejora — menyala di YouTube, bersinar di TikTok, dan menclok di Facebook.
Iklan Judi: Lebih Aktif dari Peringatan Pemerintah
Coba buka media sosial malam hari. Di antara video lucu dan berita politik, pasti ada iklan: “Main sekarang, bisa menang ratusan juta!”
Lucunya, ketika ditelusuri, alamat situsnya berpindah tiap minggu. Bahkan ada yang berani menulis slogan baru: “Bukan judi, ini hiburan digital berhadiah finansial.”
Mungkin inilah yang disebut inovasi kriminal digital.
Sementara itu, kementerian dan lembaga sibuk saling koordinasi. Ada yang ingin blokir, ada yang ingin edukasi, dan ada yang tampak bingung sendiri karena situs yang baru diblokir pagi ini, sore sudah lahir lagi dengan versi “.id.my.vip”.
Rakyat Mulai Hafal Polanya
Sudah seperti siklus tahunan:
1. Pemerintah marah → situs diblokir.
2. Judi online ganti nama → muncul lagi.
3. Aparat menggelar razia → beberapa akun ditangkap.
4. Bandar pindah server → rakyat bingung.
5. Siklus diulang, publik pasrah.
Netizen pun mulai menyindir, “Yang cepat di Indonesia itu cuma dua: kereta Whoosh dan situs judi online.”
Catatan Redaksi Ngakak
Judi online memang seperti bintang di langit digital — tidak bisa dihapus, hanya bisa dikurangi sinarnya.
Pemerintah terus menabuh genderang perang, tapi warganet sudah terbiasa dengan pola: blokir, muncul lagi, blokir lagi, muncul lebih kinclong.
Kalau begini terus, mungkin perlu kementerian baru: Kementerian Urusan Judi Digital, lengkap dengan divisi “Tim Tebak Skor Nasional.”
Dan kalau ada penghargaan untuk aplikasi paling ulet bertahan di tengah pemberantasan, pemenangnya jelas: Slot Online Tanpa Batas 7.0 — karena dihapus 10 kali, tetap login ke-11.
Akhirnya, kita cuma bisa tertawa getir. Judi online dibilang haram, tapi tetap laris. Pemerintah dibilang tegas, tapi tetap longgar.
Di tengah semua itu, rakyat cuma berdoa: semoga suatu hari nanti, yang viral bukan situs judi, tapi situs pekerjaan yang benar-benar membayar.***




















