(Rubrik: Bola & Birokrasi – Ketika Rumput Hijau Tak Lebih Rapi dari Rapat PSSI)
INSIDE POLITIK— Drama sepakbola Indonesia kembali naik daun, bukan karena prestasi, tapi karena sensasi. Patrick Kluivert resmi dilepas dari kursi pelatih Timnas Indonesia setelah masa singkat yang lebih mirip “trial Shopee” daripada kontrak profesional.
PSSI pun mengumumkan pemecatan itu dengan wajah tegas — walau di balik layar, suara rakyat justru serempak: “Balikin Shin Tae-yong!”
Ya, Shin Tae-yong. Pria Korea yang dulu bikin Timnas terlihat seperti tim sungguhan, bukan tim simulasi. Di tangannya, pemain muda berlari bukan karena takut dimarahi pelatih, tapi karena benar-benar tahu mau ke mana.
Kini, setelah Kluivert pergi, Timnas tampak seperti rumah tangga yang kehilangan arah. Bukan karena tak punya pemain bagus, tapi karena manajemen terlalu sibuk memikirkan “citra” daripada “cara”.
Kluivert Datang, Hujan Janji Turun Deras
Ketika pertama kali diumumkan, kedatangan Kluivert sempat bikin euforia. Foto-fotonya bertebaran di media sosial, dengan caption semangat: “Era baru sepakbola Indonesia dimulai!”
Sayangnya, era baru itu berakhir sebelum rumput stadion sempat ganti pola potong.
Kluivert datang dengan nama besar, tapi pergi dengan hasil yang kecil. Ia sempat menjanjikan “permainan Eropa”, tapi yang terjadi malah “drama Asia Tenggara”.
Di luar lapangan, rumor pun bertebaran. Ada yang bilang perbedaan visi, ada yang bilang kurang komunikasi, ada juga yang bisik-bisik, “Mungkin belum terbiasa sama nasi kotak latihan.”
Yang jelas, PSSI tampaknya kembali membuktikan keahliannya: cepat mempekerjakan, lebih cepat lagi memecat.
Shin Tae-yong: Dari Korea, Tapi Dekat di Hati Rakyat
Sejak nama Kluivert dicoret, media sosial berubah jadi konser nostalgia. Tagar BalikinSTY trending di mana-mana. Rakyat merindukan sosok pelatih yang berani marah tapi juga bisa memeluk. Yang tidak sibuk mencari alasan, tapi sibuk mencari gol.
STY bukan cuma pelatih, tapi simbol harapan — bahwa kerja keras, disiplin, dan sedikit nada tinggi bisa bikin tim yang dulu pesimis jadi penuh percaya diri.
Kini, fans menatap PSSI dengan satu pertanyaan klasik: “Kenapa dilepas kalau ujung-ujungnya kangen?”
Namun seperti biasa, di ruang rapat PSSI, logika sering tertinggal di parkiran. Yang penting ada program baru, slogan segar, dan janji “revolusi sepakbola” jilid entah berapa.
Catatan Redaksi:
Sepakbola Indonesia memang mirip sinetron sore: pemeran utama sering ganti, tapi ceritanya tetap sama. Setiap kali ada pelatih baru, ada harapan baru. Tapi ujung-ujungnya, yang tetap abadi cuma evaluasi.
Kalau rakyat boleh memilih, mungkin mereka akan pilih satu hal saja: pelatih yang benar-benar bekerja di lapangan, bukan di naskah konferensi pers. Karena bagi fans sejati, yang mereka rindukan bukan gaya bicara Eropa — tapi gol yang nyata di papan skor.
Tagline Halaman:
“Di bawah STY kita punya arah. Di bawah Kluivert kita punya alasan. Di bawah PSSI… kita punya sabar.”




















