Ngakak Politik
INSIDE POLITIK— Di tengah hiruk-pikuk penyusunan APBN 2026, tiba-tiba muncul kabar bahwa mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani “menyampaikan pesan sponsor” kepada penggantinya, Purbaya — agar “ngutak-atik” angka-angka APBN sesuai selera istana lama.
Isu ini cepat menyebar seperti undangan reuni sekolah yang viral — padahal menurut Purbaya: “pesan sponsor tak ada, pesan khusus pun tak ada.”
Fakta di Lapangan
Purbaya menegaskan bahwa rancangan APBN 2026 yang ditinggalkan Sri Mulyani sudah bagus, dan tidak banyak diubah.
Hanya satu komponen yang ia utak-atik: transfer ke daerah (TKD).
Revisi TKD itu dilakukan untuk “menenangkan keributan daerah” setelah pemotongan anggaran awal dinilai terlalu dalam. Tambahan anggaran sebesar Rp43 triliun diberikan agar kepala daerah tidak semakin rajin mengeluh di media.
Purbaya juga menegaskan bahwa kabar “pesan sponsor Sri Mulyani” hanyalah spekulasi politik.
“Tidak ada arahan dari Bu Sri. Saya hanya menyesuaikan angka supaya daerah tidak marah,” ujarnya santai.
Sindiran & Komentar Kocak
Isu “pesan sponsor” muncul seperti katalog belanja — lengkap dengan imajinasi, padahal isinya cuma gimmick politik.
Kalau memang Sri Mulyani benar menyampaikan pesan, kenapa Purbaya bisa bilang “tak ada”?
Mungkin menterinya lupa mencatat di memo, atau memo-nya terselip di tumpukan proposal yang belum sempat dibaca.
Publik pun bereaksi beragam:
“Pesan sponsor? Wah, kalau begitu saya juga mau pesan sponsor: agar harga sayur murah dan bensin turun!”
“Apa ini versi politik dari endorsement produk? ‘Sri Mulyani merekomendasikan angka ini, silakan diendorse ke APBN!’”
Kesimpulan Satir
Isu “pesan sponsor Sri Mulyani ke Purbaya untuk utak-atik APBN” mungkin hanyalah balon angin politik — menarik, bikin ramai, tapi meledak sendiri saat diuji tiup.
Yang jelas, Purbaya tidak mau jadi boneka angka, sementara warisan Sri Mulyani tetap dianggap fondasi utama APBN 2026.
Kalau pun ada ubahan, katanya cuma “minor tweak” di sisi transfer ke daerah — semacam edit kecil biar rakyat daerah nggak ngamuk di rapat koordinasi.***




















