NGAKAK POLITIK
INSIDE POLITIK – Sejarah politik dunia kembali mengajarkan hal lucu sekaligus tragis. Di Nepal, pemerintah bisa tumbang bukan karena rudal, bukan pula karena kudeta militer, tapi karena flexing anak pejabat. Ya, cukup dengan pamer mobil mewah, pesta glamor, dan sikap sok-sokan, rakyat pun naik pitam: “Kami bayar pajak, mereka malah joget di atas Ferrari.”
Publik Indonesia langsung heboh: “Waduh, kalau flexing anak pejabat bisa gulingkan pemerintahan, kita harus siap-siap nonton sinetron politik episode baru.”
Indonesia, Negeri Flexing Tanpa Henti
Di sini, anak pejabat sering nongol di medsos: pamer tas branded harga rumah, liburan ke Eropa tiap bulan, sampai ngomong seenaknya di podcast.
Netizen nyeletuk, “Flexing level kita itu pamer makan indomie dua bungkus. Mereka? Pamer ngeracunin ekonomi bangsa dengan tawa-tawa tipis.”
Bahkan ada yang bilang: “Kalau Nepal tumbang gara-gara flexing, Indonesia bisa bikin seri Netflix sendiri: ‘Flexing of Thrones’.”
Sudewan vs Rakyat
Di tengah kondisi ini, muncul juga “sudewan” alias sekelompok politisi yang lebih rajin menentang suara rakyat daripada memperjuangkannya. Rakyat minta BBM turun, sudewan malah debat AC ruang sidang. Rakyat minta sembako murah, mereka sibuk nge-vlog.
Satirnya: “Sudewan ini kayak mic karaoke, suaranya keras, tapi lagunya nggak pernah nyambung.”
Flexing Bisa Jadi Bumerang
Flexing anak pejabat di Nepal bikin pemerintahan ambruk. Di Indonesia? Bisa jadi masih tahap season 1. Tapi kalau arogansi, kesombongan, dan gaya hidup jetset terus dipertontonkan, jangan salahkan rakyat kalau suatu hari nanya: “Apakah kita ini negara demokrasi, atau sekadar fashion show keluarga pejabat?”
Yang jelas, rakyat hanya butuh harga beras murah, bukan konten TikTok anak pejabat naik private jet.(MEL)




















