Minggu, April 19, 2026
  • Login
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
No Result
View All Result
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
Minggu, April 19, 2026
No Result
View All Result
Inside Politik
No Result
View All Result
Home Lampung Bandar Lampung

Dari Mimbar ke Dapur: Kisah Relawan dan Angka dalam Program Gizi Nasional

Melda by Melda
Februari 6, 2026
in Bandar Lampung, Daerah
Dari Mimbar ke Dapur: Kisah Relawan dan Angka dalam Program Gizi Nasional

INSIDE POLITIK- Setiap zaman selalu punya proyek kebanggaannya. Yang dulu dinamai bendungan, jalan raya, pabrik baja—proyek yang membangkitkan rasa nasionalisme, poster, dan peringatan di setiap sudut kota. Kini, proyek kebanggaan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, lebih intim, namun sama pentingnya: sepiring nasi, sepotong telur, segelas susu.

Proyek itu diberi nama yang nyaris tak mungkin ditolak: Makan Bergizi Gratis. Sebuah inisiatif yang terdengar seperti doa lirih di dapur pada pagi hari. Seperti niat baik yang tak perlu dipertanyakan. Negara berdiri di atas mimbar, menyebut anak-anak, gizi, masa depan. Kata stunting diucapkan dengan nada perang. Anggaran disebut dengan angka yang membuat kepala menoleh, triliunan rupiah mengalir, rapi di tabel, deras dalam pidato.

BACA JUGA

Retreat Nasional di Akmil, Ketua DPRD Lamsel Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Adaptif

Dari 13 Nama hingga Uji DNA, Kakek Korban Akhirnya Terungkap sebagai Pelaku

Di atas kertas, semuanya tampak seperti langkah peradaban. Di layar presentasi, masa depan terlihat bersih, terang, dan penuh optimisme. Angka-angka tumbuh rapi, diagram berwarna, semua menandakan perencanaan matang dan niat mulia. Namun sejarah—yang ingatannya panjang dan tak mudah dibohongi—selalu mengajarkan satu hal: setiap proyek besar adalah panggung. Dan setiap panggung, betapapun megahnya, selalu menyembunyikan aktor-aktor yang tak disebut namanya.

Bukan hanya negara yang berdiri di sana. Ada pengusaha yang pandai membaca peluang lebih cepat dari teks pidato. Ada kontraktor, distributor, penyedia logistik, katering, dapur industri. Ada modal yang bergerak senyap, seperti angin laut yang dulu membawa kapal dagang ke pelabuhan Nusantara. Di mana anggaran besar dibuka, pasar tidak pernah terlambat datang.

Beras berhenti menjadi makanan. Ia berubah menjadi kontrak. Telur tak lagi lauk, melainkan angka tender. Dapur tak lagi tungku, tapi proyek. Di ruang-ruang berpendingin udara, kesepakatan dirumuskan dengan suara rendah. Angka-angka bergerak halus, persentase disepakati tanpa perlu diucapkan keras-keras. Semua tampak sah, legal, tercatat. Keuntungan dihitung cepat, panen datang tanpa lumpur, laporan rapi tanpa noda.

Sementara itu, di dunia lain—yang jaraknya hanya beberapa kilometer, kadang hanya satu dinding tipis—api sudah menyala dari malam. Di sanalah dapur bekerja. Perempuan dan lelaki yang disebut relawan mulai bergerak di bawah batas malam. Beras ditanak dalam kuali besar, sayur diiris sampai bau bawang melekat di tangan. Air mendidih, uap naik, aroma masakan berbaur dengan keringat yang menempel di rambut dan pakaian.

Waktu berjalan lambat di dapur. Jam tujuh pagi terasa panjang. Jam sembilan terasa lebih panjang lagi. Panci dicuci, galon diangkat, ratusan porsi dibagikan tanpa jeda. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada laporan kinerja. Upah datang belakangan—jika datang. Kadang disebut uang transport. Kadang uang lelah. Kadang jumlahnya tak lebih besar dari harga lauk yang mereka masak.

Tetapi mereka jarang disebut pekerja. Mereka disebut relawan. Kata itu terdengar mulia, bersih, seolah cukup untuk menggantikan kontrak kerja, jaminan kesehatan, perlindungan hukum. Dalam satu kata itu, kewajiban negara menguap pelan-pelan. Jika lelah, itu pengabdian. Jika mengeluh, itu kurang ikhlas. Padahal pekerjaan mereka nyata, rutin, terjadwal. Dalam bahasa ekonomi, mereka adalah tenaga produksi. Hanya namanya diganti agar terdengar lebih suci.

Beginilah bahasa bekerja: ia tidak selalu berbohong, tapi sering menyamarkan. Di negeri yang gemar berbicara tentang keadilan sosial, ironi itu tumbuh diam-diam. Yang satu mengaduk kuah sejak subuh. Yang lain mengaduk proposal dan angka. Yang satu pulang dengan bau asap di baju, yang lain pulang dengan laporan laba. Yang satu hidup seperti musim tanam—panjang, sabar, penuh peluh. Yang lain menikmati musim panen—cepat, bersih, tanpa lumpur.

Dan tetap harus dikatakan jujur: program ini membawa harapan. Anak-anak makan. Perut kenyang. Gizi membaik. Sekolah terasa lebih terang. Niat baiknya nyata dan tak layak dihapus begitu saja. Namun niat baik tanpa tata kelola yang jernih selalu berisiko berubah menjadi ladang rente. Anggaran besar tanpa pengawasan mudah bocor, seperti atap rumbia di musim hujan.

Transparansi bukan ancaman, melainkan penjaga. Akuntabilitas bukan penghambat, melainkan pengaman. Jika tidak, sejarah akan mencatatnya dengan nada datar tapi dingin: bahwa atas nama memberi makan rakyat kecil, justru rakyat kecil yang paling banyak membayar harganya.

Rahasia terbesar program sebesar ini bukan konspirasi gelap atau drama kekuasaan. Rahasia itu terlalu manusiawi, bahkan nyaris biasa. Bahwa di balik setiap kebijakan besar, selalu ada dua dunia yang berjalan berdampingan tapi jarang saling menyapa: dunia pidato dan dunia dapur.

Peradaban yang sungguh-sungguh besar tidak diukur dari berapa juta porsi dibagikan, melainkan dari satu pertanyaan tua yang tak pernah kehilangan maknanya: apakah mereka yang menyalakan api itu sudah diperlakukan dengan adil?***

Source: ALFARIEZIE
Tags: AkuntabilitasKeadilan SosialKebijakan Publikpangan anakProgram Makan Bergizi Gratisrelawan dapurTransparansi
Previous Post

SMA Siger Disorot Aparat, Asroni Paslah Dorong Solusi ala Jawa Barat

Next Post

Mengapa Parlemen Kehilangan Taji

Related Posts

Retreat Nasional di Akmil, Ketua DPRD Lamsel Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Adaptif
Daerah

Retreat Nasional di Akmil, Ketua DPRD Lamsel Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Adaptif

April 19, 2026
Dari 13 Nama hingga Uji DNA, Kakek Korban Akhirnya Terungkap sebagai Pelaku
Daerah

Dari 13 Nama hingga Uji DNA, Kakek Korban Akhirnya Terungkap sebagai Pelaku

April 19, 2026
Gubernur Dorong Desa Mandiri, 1.500 UMKM Meriahkan Festival di Sribhawono
Bandar Lampung

Gubernur Dorong Desa Mandiri, 1.500 UMKM Meriahkan Festival di Sribhawono

April 19, 2026
Sidang PN Tanjungkarang: Nama Heri Wardoyo Tak Muncul dalam Dugaan Rekayasa PI
Bandar Lampung

Sidang PN Tanjungkarang: Nama Heri Wardoyo Tak Muncul dalam Dugaan Rekayasa PI

April 19, 2026
Hilirisasi Kelapa di Enggano Jadi Harapan Baru Petani Lokal
Daerah

Hilirisasi Kelapa di Enggano Jadi Harapan Baru Petani Lokal

April 17, 2026
Pemprov Lampung Ajak Mahasiswa Jadi Motor Transformasi Digital
Bandar Lampung

Pemprov Lampung Ajak Mahasiswa Jadi Motor Transformasi Digital

April 17, 2026
Next Post
Mengapa Parlemen Kehilangan Taji

Mengapa Parlemen Kehilangan Taji

Disdikbud Lampung Perkenalkan Sekolah Terbuka untuk Pendidikan Fleksibel

Disdikbud Lampung Perkenalkan Sekolah Terbuka untuk Pendidikan Fleksibel

Sekdaprov Lepas Keberangkatan Wartawan Lampung ke Hari Pers Nasional

Sekdaprov Lepas Keberangkatan Wartawan Lampung ke Hari Pers Nasional

Jalan Rusak di Mana-Mana, Warga Bandar Lampung Rindu Era Herman HN

Jalan Rusak di Mana-Mana, Warga Bandar Lampung Rindu Era Herman HN

Enam Bulan Sekolah Tanpa NISN, Nasib Siswa SMA Siger Masih Menggantung

Enam Bulan Sekolah Tanpa NISN, Nasib Siswa SMA Siger Masih Menggantung

POPULAR NEWS

KIM Plus di Pilkada Jakarta Terancam Bubar oleh Putusan MK

Skenario KIM Plus di Pilgub Lampung, RMD Diatas Angin, Arinal dan Umar Terancam?

Agustus 8, 2024
Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Agustus 6, 2024
Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

September 11, 2025
Malam Ini DPP Golkar Gelar Pleno Plt Ketum Golkar Pengganti Airlangga

AMBIGU!Sudah Rekomendasikan Arinal, Golkar Kembali Usulkan Tiga Nama Kader Pendamping RMD

Agustus 7, 2024
PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

April 10, 2025

EDITOR'S PICK

Menkumham Bantah Dipanggil Jokowi untuk Bahas Putusan MK

Cak Imin Minta Menkumham Supratman Andi Agtas Taat Aturan Terkait Kepengurusan Partai

Agustus 20, 2024
Debut Mengejutkan, Nadini Apriati Bikin Merinding di Malahayati Yearfest

Debut Mengejutkan, Nadini Apriati Bikin Merinding di Malahayati Yearfest

Januari 20, 2026
Habibie dan Budi Bersaing Rebut Kursi Ketua PPI Lampung Utara di Muskab X

Habibie dan Budi Bersaing Rebut Kursi Ketua PPI Lampung Utara di Muskab X

April 11, 2025
Lampu Strobo Pejabat vs Rumah Gelap Rakyat: Siapa Sebenarnya yang Butuh Terang?

Lampu Strobo Pejabat vs Rumah Gelap Rakyat: Siapa Sebenarnya yang Butuh Terang?

September 25, 2025
https://insidepolitik.com/wp-content/uploads/2024/07/Suara-Muda-Suara-Cerdas.mp3

About

Follow us

Kategori

  • Analisa
  • Bandar Lampung
  • casino
  • Daerah
  • E-Paper
  • Lampung
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Luar Negeri
  • Mesuji
  • Metro
  • Nasional
  • Ngakak Politik
  • Parlemen
  • Pemerintahan
  • Pesawaran
  • Pringsewu
  • Tanggamus
  • Tulang Bawang
  • Uncategorized

Recent Posts

  • Retreat Nasional di Akmil, Ketua DPRD Lamsel Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Adaptif
  • Dari 13 Nama hingga Uji DNA, Kakek Korban Akhirnya Terungkap sebagai Pelaku
  • Gubernur Dorong Desa Mandiri, 1.500 UMKM Meriahkan Festival di Sribhawono
  • Sidang PN Tanjungkarang: Nama Heri Wardoyo Tak Muncul dalam Dugaan Rekayasa PI

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

No Result
View All Result
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In