Ngakak Politik
INSIDE POLITIK— Hari Pahlawan Tahun Ini Mendadak Jadi Lebih “Meriah” Daripada Diskon 11.11, Setelah Pemerintah Mengumumkan Bahwa Presiden Ke-2 RI, Soeharto, Resmi Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan Ini Sontak Membuat Publik Bereaksi Beragam: Ada Yang Tepuk Tangan, Ada Yang Tepuk Jidat, Dan Ada Juga Yang Tepuk Kasur Karena Memilih Tidur Saja Daripada Ikut Debat.
Pemerintah Menjelaskan Bahwa Gelar Ini Diberikan Atas “Jasa-Jasa Besar Soeharto Terhadap Pembangunan Bangsa.” Masyarakat Langsung Mengangguk—Sebagian Karena Setuju, Sebagian Lagi Karena Masih Bingung Apakah Sedang Menonton Berita Atau Komedi Politik.
Sejumlah Warga Menilai Keputusan Ini Bisa Jadi Langkah Monumental. “Lumayanlah, Kalau Semua Mantan Pemimpin Dikasih Gelar, Kita Nggak Perlu Ribut Soal Sejarah. Tinggal Dikasih Stiker Hologram ‘Pahlawan Resmi’ Di Buku IPS,” Ujar Seorang Bapak-Bapak Yang Sedang Antre Sembako.
Di Media Sosial, Tagar Pahlawan Versi Siapa Langsung Trending Sepanjang Hari. Ada Yang Bercanda: “Kalau Begini Caranya, Sejarah Indonesia Perlu WiFi Biar Bisa Update Otomatis.”
Para Pengamat Politik Ikut Bersuara. Ada Yang Mengapresiasi, Ada Yang Mengernyitkan Dahi Panjang-Panjang. Seorang Analis Mengatakan Keputusan Ini “Unik,” Karena Biasanya Gelar Pahlawan Diberikan Kepada Tokoh Yang Kontribusinya Diingat, Bukan Diperdebatkan Setiap Tahun.
“Kalau Ini Langkah Rekonsiliasi, Ya Bagus. Tapi Kalau Langkah Uji Mental Masyarakat, Ya Berhasil. Banyak Yang Lemas,” Ujarnya Sambil Membuka Data Survei Yang Ikut Lemas Juga.
Sementara Itu, Sejarawan Mengaku Sedang Sibuk Memeriksa Buku Sejarah. “Kami Hanya Ingin Memastikan Halaman Mana Yang Harus Direvisi,” Kata Salah Satu Sejarawan. “Takutnya Salah, Nanti Disuruh Remedial.”
Ketua Panitia Gelar Pahlawan Mengatakan Keputusan Ini Diambil Setelah “Pertimbangan Mendalam Dan Panjang.” Namun Tak Dijelaskan Apakah Pertimbangan Itu Lebih Panjang Dari Masa Pemerintahan Soeharto Atau Tidak.
Di Sisi Lain, Beberapa Generasi Muda Bertanya-Tanya Kenapa Keputusan Besar Selalu Diumumkan Saat Mereka Sibuk Ujian. “Kami Lagi Fokus Belajar Pancasila, Pak,” Kata Seorang Pelajar, “Tiba-Tiba Sejarahnya Update. Mana Sempat Catat?”
Yang Jelas, Pengangkatan Ini Membuat Hari Pahlawan 2025 Jadi Yang Paling Ramai Dalam Satu Dekade Terakhir. Bahkan Pedagang Bakso Pun Ikut Nimbrung.
“Kalau Nanti Banyak Pahlawan Baru, Saya Siap Bikin Bakso Edisi Khusus,” Kata Seorang Penjual. “Namanya Bakso Historis. Isiannya Campur-Campur, Kayak Debat Di TV.”
Terlepas Dari Pro Dan Kontra, Keputusan Ini Resmi Sudah Diketok. Publik Tinggal Menunggu Langkah Selanjutnya: Apakah Daftar Tokoh Calon Pahlawan Akan Bertambah, Atau Justru Drama Politik Yang Akan Bertambah?
Untuk Sementara, Masyarakat Diminta Tetap Tenang. Karena Seperti Biasa, Di Negeri Ini Yang Berubah Paling Cepat Biasanya Bukan Sejarah… Tapi Komentar Netizen.***




















