NGAKAK POLITIK
INSIDE POLITIK– Desas-desus kembali menggelinding lebih cepat dari laju kereta Whoosh. Kali ini bukan soal kecepatan Jakarta–Bandung yang bisa ditempuh dalam 40 menit, tapi soal anggaran yang kabarnya bisa “meluncur” lebih cepat lagi—entah ke mana.
Nama Luhut Binsar Pandjaitan, sang “Jenderal Segala Urusan,” disebut-sebut bakal diperiksa oleh KPK terkait dugaan mark up dalam proyek kereta cepat. Isu ini langsung bikin publik terhenyak, meski sebagian netizen hanya menulis santai:
> “Kalau bener diperiksa, semoga lajunya jangan secepat keretanya.”
Dari Infrastruktur ke Infotainment
Proyek Whoosh dulu dijual dengan slogan “Simbol kemajuan bangsa.” Kini, netizen menyebutnya “Simbol kemajuan tagihan.”
Konon, setiap kali biaya proyek naik, masyarakat disuruh bersabar dengan dalih investasi masa depan.
Tapi rakyat kecil cuma bisa bengong: masa depan siapa, ya?
Di kalangan warganet, muncul teori lucu:
> “Mark up-nya mungkin ikut naik karena keretanya ngebut.”
Luhut: Antara Diplomasi dan Detik-detik
Sebagai pejabat yang dikenal punya seribu jabatan dan segudang koneksi, nama Luhut memang kerap muncul di proyek-proyek besar. Dari nikel, tambang, digitalisasi, sampai kereta cepat, semua seolah tak bisa lepas dari sentuhannya.
Kini, publik menunggu, apakah “Bapak Segalanya” itu benar-benar akan duduk di kursi saksi, atau kursi itu nanti juga ikut disulap jadi proyek strategis nasional.
Rakyat: “Whoosh! Uangnya Ke Mana?”
Di pasar-pasar, obrolan soal ini lebih cepat viral daripada gosip artis.
> “Keretanya jalan di atas rel, uangnya jalan di atas meja,” ujar seorang pedagang dengan nada getir.
> Yang lain menimpali,
> “Yang bikin cepat bukan mesinnya, tapi penggelembungannya!”
Catatan Redaksi Ngakak Politik
Kereta cepat seharusnya jadi kebanggaan, bukan bahan parodi nasional. Tapi selama angka-angka anggaran bisa melesat tanpa kejelasan, rakyat cuma bisa tertawa pahit sambil membandingkan:
> “Di Eropa, kereta cepat menghubungkan kota; di Indonesia, kereta cepat menghubungkan pejabat dengan KPK.”
Dan jika benar nanti pemeriksaan KPK jadi kenyataan, satu hal pasti: rakyat akan menunggu, bukan di stasiun, tapi di depan televisi — menanti siapa yang akan Whoosh duluan ke tahanan.***




















