Ngakak Politik
INSIDE POLITIK— Senin lalu, suasana sidang paripurna kabinet tiba-tiba berubah jadi seperti briefing pasukan. Presiden Prabowo Subianto dengan suara tegas mengumumkan: “Mulai sekarang, semua pejabat wajib pakai kendaraan dinas Maung buatan Pindad!”
Seketika, para pejabat menatap satu sama lain, sebagian kagum, sebagian lagi bingung — terutama yang terbiasa naik mobil mewah Eropa dengan jok pijat otomatis. Kini mereka harus bersiap pindah ke kendaraan taktis yang lebih cocok untuk menembus rawa ketimbang macet di Sudirman.
“Ini bukan mobil, ini Maung!” kata Prabowo sambil menepuk dashboard prototipe Pindad yang dipajang di depan ruang sidang.
Katanya, ini bentuk cinta produk dalam negeri dan simbol disiplin nasional. Tapi di luar gedung, komentar publik justru bikin ngakak.
> “Kalau semua pejabat pakai Maung, minimal mereka gak bakal mogok saat jalan rusak. Tapi tolong, tambahkan fitur AC-nya tiga lapis, biar mental pejabat gak luntur di panas Jakarta.”
Pejabat yang biasa nyetir sendiri pun mulai gelisah. Bukan karena tak percaya pada produk lokal, tapi karena Maung lebih mirip kendaraan tempur ringan. “Parkir di kantor aja bisa bikin satpam kaget,” celetuk salah satu staf kementerian.
Di media sosial, ide Prabowo ini langsung trending dengan tagar MaungisasiKabinet. Warganet ramai membayangkan pemandangan lucu: iring-iringan pejabat berderet di jalan protokol, semua pakai Maung dengan plat merah, tampak gagah tapi jalannya pelan karena suspensinya keras.
Beberapa netizen bahkan iseng bikin meme: Prabowo berdiri di depan istana sambil berkata,
> “Pejabat boleh beda pendapat, tapi bannya harus sama: Pindad edition.”
Sementara di Pindad sendiri, para insinyur tersenyum lebar. “Produksi meningkat, tapi kami harus siap kalau nanti menteri minta versi Maung yang ada cup holder kopi dan colokan laptop,” ujar salah satu teknisi.
Menteri Purbaya bahkan dikabarkan langsung pesan versi hybrid, supaya bisa tetap “hemat energi, tapi sangar.”
Namun, dari semua komentar, yang paling jujur datang dari seorang sopir dinas yang berujar dengan polos:
> “Yang penting jangan disuruh nyuci tiap hari, Pak. Lumpur di bodi Maung itu kayak tanda jasa.”
Dan begitulah — era baru kendaraan dinas telah dimulai.
Dulu pejabat dinilai dari pelat mobil, sekarang mungkin dari banyaknya lumpur di kap mesin.
Karena di era Prabowo ini, mobil dinas bukan cuma alat transportasi — tapi simbol semangat nasionalisme dan sedikit aroma diesel.***




















