Sabtu, September 12, 2026
  • Login
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
No Result
View All Result
Inside Politik
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper
Sabtu, September 12, 2026
No Result
View All Result
Inside Politik
No Result
View All Result
Home Daerah

Nasib Mbah Mujiran Masih Menggantung, Restorative Justice Belum Berujung Kebebasan

Melda by Melda
Juni 9, 2026
in Daerah, Lampung Selatan
Nasib Mbah Mujiran Masih Menggantung, Restorative Justice Belum Berujung Kebebasan

INSIDE POLITIK- Perdamaian telah tercapai. Korban telah memaafkan. Dukungan kemanusiaan pun mengalir dari berbagai pihak. Namun bagi Mbah Mujiran (74), kebebasan masih belum datang.

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Kalianda pada Rabu, 3 Juni 2026, kakek renta itu kembali duduk sebagai terdakwa. Sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah terus mengemuka: bagaimana mungkin seseorang yang telah memperoleh perdamaian masih harus menunggu kepastian hukum?

BACA JUGA

Belajar Tak Melulu di Kelas, Pramuka SMK Ma’arif 1 Metro Tampil di Kampus

Lapas Kalianda Gandeng BPBD Lampung Selatan, Perkuat Mitigasi Risiko Bencana

Kasus yang menjerat Mbah Mujiran bermula pada Februari 2026 di areal PTPN I Regional VII Kebun Bergen, Desa Wonodadi, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan.

Berdasarkan dakwaan, Mbah Mujiran mengambil dan menyimpan sekitar 550 kilogram getah karet ke dalam 10 karung dengan nilai kerugian yang ditaksir mencapai Rp8,8 juta.

Namun di balik angka-angka dalam berkas perkara, terdapat realitas sosial yang jauh lebih kompleks.

Mbah Mujiran bukanlah pelaku kejahatan terorganisir ataupun pengusaha besar. Ia merupakan buruh sadap harian yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dalam persidangan terungkap bahwa tindakan tersebut diduga dilakukan karena kebutuhan mendesak untuk membeli susu dan obat bagi cucunya yang sedang sakit.

Karena faktor usia yang sudah lanjut, Mbah Mujiran tidak mampu mengangkut sendiri getah karet tersebut. Ia kemudian meminta bantuan seorang pemuda bernama Nur Wahid.

Awalnya Nur Wahid menolak. Namun rasa iba membuatnya bersedia membantu mengangkut sebagian getah menggunakan sepeda motor.

Keputusan yang berlangsung dalam hitungan menit itu kemudian mengubah kehidupan keduanya. Petugas keamanan memergoki mereka, lalu keduanya diamankan dan diproses hukum dalam satu berkas perkara yang sama.

Perdamaian Sudah Terjadi

Perjalanan kasus ini kemudian menarik perhatian publik, aktivis kemanusiaan, organisasi masyarakat sipil, hingga sejumlah pejabat daerah.

Pada 25 Mei 2026, PTPN I Regional VII menyatakan kesediaan berdamai dengan Mbah Mujiran atas dasar pertimbangan kemanusiaan.

Tidak hanya itu, perusahaan juga menyatakan komitmen memberikan pendampingan sosial kepada Mbah Mujiran setelah perkara selesai.

Banyak pihak menganggap persoalan tersebut telah menemukan jalan keluar. Namun dalam praktiknya, proses hukum ternyata belum berhenti.

Saat perkara kembali disidangkan, majelis hakim menyatakan mekanisme Keadilan Restoratif atau Restorative Justice (RJ) belum dapat diterapkan sehingga persidangan tetap berlanjut.

Hambatan pada Berkas Perkara

Salah satu persoalan utama terletak pada posisi Mbah Mujiran dan Nur Wahid yang berada dalam satu registrasi perkara.

Perdamaian memang telah diberikan kepada Mbah Mujiran, namun belum mencakup Nur Wahid sebagai terdakwa lainnya.

Kondisi tersebut memunculkan perdebatan mengenai penerapan keadilan restoratif dalam kasus ini.

Kuasa hukum Mbah Mujiran berpendapat bahwa RJ belum dapat dijalankan karena kedua terdakwa berada dalam satu berkas yang saling berkaitan.

Di sisi lain, pihak PTPN I tetap menegaskan komitmen perdamaian terhadap Mbah Mujiran.

Bahkan kuasa hukum perusahaan menyebut terdapat pandangan hukum yang memungkinkan penerapan RJ secara individual terhadap terdakwa yang telah memenuhi syarat, meskipun proses hukum terhadap terdakwa lain masih berjalan.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa implementasi keadilan restoratif masih menghadapi tantangan dalam praktiknya.

Padahal secara prinsip, keadilan restoratif bertujuan memulihkan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat melalui pendekatan pemulihan, bukan semata-mata penghukuman.

Menjadi Sorotan Publik

Sekretaris DPC Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) Lampung Selatan, Hydatur Ridwan, menilai perkara ini menjadi contoh nyata pertemuan antara aspek hukum, kemanusiaan, dan persoalan sosial.

Menurutnya, kasus Mbah Mujiran memperlihatkan bahwa semangat perdamaian yang telah terbangun tetap harus berhadapan dengan prosedur hukum yang berlaku.

“Kasus ini menarik perhatian publik karena memperlihatkan adanya pertemuan antara aspek hukum, kemanusiaan, dan persoalan sosial. Di satu sisi ada prosedur yang harus dijalankan, tetapi di sisi lain ada semangat penyelesaian yang telah dibangun melalui perdamaian,” kata Hydatur.

Ia berharap perkara tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama dalam memperkuat penerapan keadilan restoratif di Indonesia.

“Tujuan utama keadilan restoratif adalah pemulihan. Karena itu diperlukan kesamaan pemahaman dan koordinasi yang baik di antara para pihak agar tujuan tersebut dapat tercapai sesuai koridor hukum yang berlaku,” ujarnya.

Menunggu Kepastian

Hingga kini, majelis hakim masih memberikan kesempatan kepada para pihak untuk mencari penyelesaian yang dapat membuka jalan bagi penerapan keadilan restoratif.

Harapan terbesar tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan yang juga mencakup Nur Wahid.

Apabila hal tersebut terwujud, peluang penyelesaian melalui pendekatan restoratif masih terbuka. Namun jika tidak, proses pidana akan terus berjalan hingga putusan pengadilan dijatuhkan.

Sementara itu, Mbah Mujiran hanya bisa menunggu.

Menunggu di tengah perdebatan pasal, perbedaan penafsiran hukum, dan tarik-menarik antara kepastian prosedur dengan rasa keadilan.

Di atas kertas, perkara ini mungkin hanya menyangkut 550 kilogram getah karet dan kerugian Rp8,8 juta.

Namun di ruang sidang, perkara tersebut berkembang menjadi potret bagaimana hukum, kemiskinan, dan kemanusiaan bertemu dalam satu kasus yang sama.

Dan hingga sidang berikutnya digelar, pertanyaan itu masih menggema di lorong Pengadilan Negeri Kalianda:

Jika perdamaian telah tercapai, mengapa kebebasan masih harus menunggu?.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Hukum IndonesiaKasus Getah Karetkeadilan restoratifLampung SelatanMbah MujiranNur WahidPengadilan Negeri KaliandaPTPN I Regional VIIrestorative justice
Previous Post

Kesbangpol Pringsewu Gelar Sosialisasi Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan

Next Post

Rakor Inflasi Kemendagri: Lampung Peringkat Pertama Pengendalian Inflasi Nasional

Related Posts

Belajar Tak Melulu di Kelas, Pramuka SMK Ma’arif 1 Metro Tampil di Kampus
Daerah

Belajar Tak Melulu di Kelas, Pramuka SMK Ma’arif 1 Metro Tampil di Kampus

September 11, 2026
Lapas Kalianda Gandeng BPBD Lampung Selatan, Perkuat Mitigasi Risiko Bencana
Daerah

Lapas Kalianda Gandeng BPBD Lampung Selatan, Perkuat Mitigasi Risiko Bencana

September 11, 2026
Bupati Riyanto Pamungkas Dorong BUMDes Naik Kelas Lewat Hilirisasi dan Konsolidasi
Daerah

Bupati Riyanto Pamungkas Dorong BUMDes Naik Kelas Lewat Hilirisasi dan Konsolidasi

September 11, 2026
Tanah Mengering, Pemkab Pringsewu dan Ratusan Jamaah Gelar Salat Istisqa
Daerah

Tanah Mengering, Pemkab Pringsewu dan Ratusan Jamaah Gelar Salat Istisqa

September 11, 2026
Kenali Hak dan Kewajiban, Lapas Kalianda Bekali WBP dengan Edukasi Hukum
Daerah

Kenali Hak dan Kewajiban, Lapas Kalianda Bekali WBP dengan Edukasi Hukum

September 11, 2026
Kabar Baik! Bantuan Pangan Beras 10 Kg per Bulan Berlanjut hingga Desember 2026
Daerah

Kabar Baik! Bantuan Pangan Beras 10 Kg per Bulan Berlanjut hingga Desember 2026

September 11, 2026
Next Post
Rakor Inflasi Kemendagri: Lampung Peringkat Pertama Pengendalian Inflasi Nasional

Rakor Inflasi Kemendagri: Lampung Peringkat Pertama Pengendalian Inflasi Nasional

Pemprov Lampung Terima Kunjungan Peserta PKN Tingkat II Sumatera Selatan

Pemprov Lampung Terima Kunjungan Peserta PKN Tingkat II Sumatera Selatan

Paripurna DPRD Tanggamus Berlangsung Kuorum, LKPJ Bupati Tahun 2025 Resmi Disetujui

Paripurna DPRD Tanggamus Berlangsung Kuorum, LKPJ Bupati Tahun 2025 Resmi Disetujui

Pasar Gisting Mulai Ditata, Pedagang Tinggalkan Bahu Jalan dan Masuk Area Pasar

Pasar Gisting Mulai Ditata, Pedagang Tinggalkan Bahu Jalan dan Masuk Area Pasar

Hadiri RDPU Komisi II DPR RI, Bupati Egi Dorong Solusi untuk PPPK dan Honorer

Hadiri RDPU Komisi II DPR RI, Bupati Egi Dorong Solusi untuk PPPK dan Honorer

POPULAR NEWS

Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Nama Hanan Kembali Ramaikan Pilgub Lampung

Agustus 6, 2024
KIM Plus di Pilkada Jakarta Terancam Bubar oleh Putusan MK

Skenario KIM Plus di Pilgub Lampung, RMD Diatas Angin, Arinal dan Umar Terancam?

Agustus 8, 2024
Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

Gubernur Lampung Dukung Kebangkitan Petambak Eks Dipasena Lewat Kemitraan Strategis dengan PT Sakti Biru Indonesia

September 11, 2025
Malam Ini DPP Golkar Gelar Pleno Plt Ketum Golkar Pengganti Airlangga

AMBIGU!Sudah Rekomendasikan Arinal, Golkar Kembali Usulkan Tiga Nama Kader Pendamping RMD

Agustus 7, 2024
PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

PA GMNI Lampung Siap Gelar Konferda, Siapkan Regenerasi dan Sekretariat Baru

April 10, 2025

EDITOR'S PICK

Sindir Jokowi, Zainal Arifin Mochtar: Harusnya Kekuatan itu Dipakai di RUU Perampasan Aset, Bukan RUU Pilkada!

Zainal Arifin Mochtar Sebut Upaya Revisi UU Pilkada oleh Banleg DPR Berbahaya Bagi Demokrasi

Agustus 21, 2024
Pendaftaran Ditutup, KPU Lampura Pastikan Dua Pasang Cakada Maju Pilkada Lampura

Pertanyakan Anggaran Pilkada 60 M, Aktivis LSM Datangi KPU Probolinggo

September 18, 2024
Langgar Partai, Belasan Kader PDIP Lampura Dukung Ardian

Besok Penutupan Pendaftaran, PDIP Belum Umumkan Kandidat 7 Kabupaten/Kota di Lampung

Agustus 28, 2024
Jokowi Bantah Dirinya Dianggap Menjegal Anies di Pilkada Jakarta dan Jabar

Koalisi Masyarakat Sipil Protes Jokowi Soal Rancangan Perpres PKUB

Oktober 18, 2024
https://insidepolitik.com/wp-content/uploads/2024/07/Suara-Muda-Suara-Cerdas.mp3

About

Follow us

Kategori

  • Analisa
  • Bandar Lampung
  • Daerah
  • E-Paper
  • Lampung
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Luar Negeri
  • Mesuji
  • Metro
  • Nasional
  • Ngakak Politik
  • Parlemen
  • Pemerintahan
  • Pesawaran
  • Pringsewu
  • Tanggamus
  • Tulang Bawang
  • Uncategorized

Recent Posts

  • (tanpa judul)
  • Belajar Tak Melulu di Kelas, Pramuka SMK Ma’arif 1 Metro Tampil di Kampus
  • Lapas Kalianda Gandeng BPBD Lampung Selatan, Perkuat Mitigasi Risiko Bencana
  • Bupati Riyanto Pamungkas Dorong BUMDes Naik Kelas Lewat Hilirisasi dan Konsolidasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

No Result
View All Result
  • Parlemen
  • Nasional
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Luar Negeri
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Ngakak Politik
  • E-Paper

© 2024 INSIDEPOLITIK.COM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In