INSIDE POLITIK— Perjalanan sebuah karya sastra terkadang mampu melampaui ruang tempat karya itu dilahirkan. Hal tersebut dialami penyair generasi baru Indonesia, Muhammad Alfariezie, setelah buku berjudul Montana diketahui masuk dalam koleksi perpustakaan Universiteit Leiden, Belanda.
Keberadaan Montana dalam katalog koleksi perpustakaan Universiteit Leiden menjadi jejak tersendiri dalam perjalanan kepengarangan Alfariezie. Buku yang lahir dari proses kreatif seorang penyair asal Bandar Lampung itu kini tercatat berdampingan dengan berbagai khazanah pengetahuan dan literatur yang dihimpun salah satu institusi akademik tertua di Eropa.
Bagi Alfariezie, keberadaan bukunya di perpustakaan tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah secara khusus dibayangkan ketika Montana ditulis dan diterbitkan.
“Saya benar-benar tidak menyangka. Ketika menulis Montana, yang ada dalam pikiran saya hanya bagaimana karya itu bisa selesai dan dapat dibaca. Saya tidak pernah membayangkan bahwa buku tersebut kemudian sampai ke perpustakaan Universiteit Leiden,” kata Muhammad Alfariezie.
Menurut Alfariezie, masuknya sebuah buku ke dalam koleksi perpustakaan universitas di luar negeri memiliki makna lebih dari sekadar perjalanan sebuah benda dari satu tempat ke tempat lain.
Buku, menurut dia, juga dapat menjadi bagian dari perjalanan gagasan dan kebudayaan Indonesia yang berpotensi dibaca dalam ruang akademik internasional.
“Bagi saya, ini bukan semata-mata tentang nama saya sebagai penulis. Ada perasaan bahwa jerih payah berkarya dari Bandar Lampung ternyata dapat menempuh perjalanan yang begitu jauh. Itu membuat saya bersyukur sekaligus semakin merasa bahwa karya sastra harus terus dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Jejak Karya dari Bandar Lampung
Alfariezie dikenal sebagai penyair dan penulis yang tumbuh dalam lingkungan kebudayaan Lampung. Karya-karyanya banyak bergerak di antara pengalaman personal, kehidupan sosial, kritik terhadap realitas, serta lanskap masyarakat yang ditemuinya sehari-hari.
Dalam perjalanan kreatifnya, ia tidak hanya menempatkan puisi sebagai permainan bahasa, tetapi juga sebagai ruang untuk merekam zaman. Sejumlah karyanya memperlihatkan kecenderungan tersebut melalui pertemuan antara persoalan sosial, politik, manusia, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
Bagi seorang penyair yang berkarya dari daerah, keberadaan Montana dalam koleksi perpustakaan Universiteit Leiden menjadi simbol bahwa karya sastra tidak selalu harus lahir dari pusat kebudayaan untuk dapat melakukan perjalanan yang jauh.
“Bandar Lampung adalah tempat saya tumbuh dan banyak gagasan saya lahir dari sini. Karena itu, ketika sebuah karya yang saya kerjakan di sini ternyata bisa sampai ke Leiden, rasanya seperti ada bagian kecil dari perjalanan sastra Lampung yang ikut berjalan ke sana,” kata Alfariezie.
Pengalaman tersebut justru membuatnya semakin terdorong untuk terus berkarya dan menghasilkan tulisan yang lebih matang.
“Saya tidak ingin melihat ini sebagai sebuah pencapaian akhir. Justru saya melihatnya sebagai pengingat bahwa masih banyak yang harus saya kerjakan. Kalau sebuah buku bisa sampai sejauh itu, maka saya harus mempertanggungjawabkan karya-karya berikutnya dengan lebih baik,” tuturnya.
Sastra sebagai Perjalanan Panjang
Keberadaan Montana di Universiteit Leiden juga memperlihatkan bagaimana sebuah buku dapat memiliki kehidupan setelah selesai ditulis oleh pengarangnya.
Ketika sebuah karya masuk ke perpustakaan, ia tidak lagi hanya menjadi milik penulis, tetapi berpotensi menjadi bagian dari perjalanan pengetahuan bagi pembaca pada masa yang berbeda.
Di titik itulah perjalanan sastra menjadi lebih panjang. Sebuah buku dapat berpindah dari meja penulis di Bandar Lampung menuju rak perpustakaan di Eropa, kemudian ditemukan kembali oleh pembaca yang mungkin tidak pernah mengenal tempat kelahiran sang pengarang.
Alfariezie menyebut pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki arti emosional yang besar baginya.
“Yang paling membuat saya terharu sebenarnya bukan karena bukunya berada di luar negeri. Saya justru teringat proses ketika karya itu dibuat. Ada waktu, tenaga, pikiran, dan banyak hal yang dikorbankan. Ternyata semua jerih payah itu membawa buku tersebut ke tempat yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan,” katanya.
Ia berharap keberadaan Montana di koleksi Universiteit Leiden dapat menjadi pemantik bagi para penulis muda Indonesia, khususnya yang berkarya dari daerah, agar tidak merasa bahwa karya yang lahir di luar pusat kebudayaan nasional memiliki batas untuk dikenal lebih luas.
“Jangan merasa bahwa kita harus berada di Jakarta atau kota besar lainnya untuk menghasilkan karya yang bisa berjalan jauh. Kita bisa menulis dari mana saja. Yang penting adalah kesungguhan, ketekunan, dan keberanian untuk terus berkarya,” ujar Alfariezie.
Bagi Muhammad Alfariezie, Montana akhirnya tidak hanya menjadi sebuah buku. Karya tersebut menjadi bagian dari perjalanan kecil yang mempertemukan Bandar Lampung dengan Leiden—dua ruang yang dipisahkan ribuan kilometer, tetapi dipertautkan oleh sebuah karya sastra.
Di antara rak-rak perpustakaan itu, sebuah buku dari penyair generasi baru Indonesia kini menemukan tempatnya untuk menunggu pembaca berikutnya.***

















