NGAKAK POLITIK
INSIDE POLITIK– Kalau dulu estafet dikenal dalam lomba lari, kini di Lampung istilah itu tampaknya naik kelas jadi model karier politik. Bedanya, tongkat yang diserahkan bukan lagi kayu, tapi kursi kekuasaan.
Setelah sejumlah pejabat di Provinsi Lampung masuk bui karena berbagai kasus korupsi, publik kembali terhenyak — meski, jujur saja, sudah agak kebal — dengan kabar mantan Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona, yang kini ditahan terkait dugaan korupsi proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Namun plot-nya tak berhenti di sana. Seolah skenario sudah matang, sang istri justru berhasil terpilih jadi Bupati. Iya, satu ditahan, satu naik jabatan. Seimbang. Di Lampung rupanya tak ada kekuasaan yang benar-benar hilang, hanya berpindah tangan dengan penuh kasih sayang.
Dari Air Bersih ke Air Mata Rakyat
Program SPAM sejatinya dibuat untuk menyediakan air bersih bagi warga, tapi di lapangan yang mengalir malah air mata. Dana miliaran rupiah yang seharusnya buat pipa dan pompa, justru bocor entah ke mana.
Warga berkomentar sinis,
> “Air bersihnya nggak ngalir, tapi air sabunnya udah sampai ke rekening.”
Politik Keluarga: Warisan Tak Berwujud
Fenomena pejabat ditahan lalu pasangan atau anaknya naik jabatan kini seperti budaya baru. Dari luar tampak manis, tapi di baliknya rakyat hanya bisa geleng kepala.
> “Kalau begini terus, nanti muncul partai baru: Partai Keluarga Korupsi Bersatu (PKKB),” celetuk seorang warga di warung kopi.
Yang lain menimpali,
> “Slogan kampanyenya gampang tuh: ‘Suami kami kerja di dalam, istri kami kerja di luar!’
Dari Sel ke Balai Kota
Lucunya, citra “tertahan tapi tidak tumbang” kadang justru mendatangkan simpati. Ada yang bilang, “Kasihan, padahal dulu rajin turun ke lapangan.”
Ya, memang turun ke lapangan penting — tapi bukan lapangan tahanan.
Catatan Redaksi Ngakak Politik
Kasus korupsi di Lampung sudah seperti hujan deras di musim penghujan — datang berkala, tapi selalu bikin becek. Dari proyek jalan, air bersih, sampai bansos, semua bisa jadi ladang “investasi cepat balik modal.”
Rakyat cuma bisa berharap, semoga nanti kekuasaan tidak lagi diwariskan seperti kursi ruang tamu, dan Lampung benar-benar bersih — bukan cuma dari air SPAM, tapi juga dari drama politik yang kian absurd.***




















