INSIDE POLITIK– Jagat politik kembali diguncang wacana soal amnesti dan abolisi, kali ini menyeret dua nama beken: Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong. Publik pun terbelah, ada yang bingung, ada yang pura-pura paham, sisanya hanya bisa garuk kepala sambil nyeruput kopi sachet.
Amnesti, kata pejabat, ibarat diskon akhir tahun. “Dosa politik bisa ditebus dengan voucher kebijakan.” Sedangkan abolisi, kata pengamat, sudah seperti paket VIP: bukan hanya diskon, tapi langsung dihapus dari catatan hitam.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang rakyat kecil ikut nimbrung, “Kalau begitu, kenapa utang listrik saya nggak pernah dapat amnesti ya? Kenapa cicilan motor saya nggak bisa di-abolisi sekalian?”
Sementara Hasto disebut-sebut duduk tenang dengan tumpukan dokumen, Tom Lembong justru tampak rileks. “Ini bukan sekadar pasal hukum, ini level branding politik,” begitu kira-kira bisik para komentator politik warung kopi.
Namun di balik hingar-bingar wacana, ada catatan penting: rakyat tetap saja hanya dapat ilusi. Mau amnesti, abolisi, atau apapun istilahnya, pada akhirnya harga beras tetap naik, BBM tetap menguras dompet, dan jalanan tetap macet oleh mobil pejabat.
Seorang pembaca koran di perempatan jalan berkata lirih sambil menyalakan rokok ketengan,
“Amnesti dan abolisi mungkin bisa menyelamatkan politisi. Tapi kami, rakyat kecil, kapan dapat dispensasi?”***




















