INSIDE POLITIK- Menjelang panen raya, para petani tebu di Kabupaten Lampung Utara berharap adanya dukungan pemerintah melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Bantuan tersebut dinilai krusial untuk menjaga kelancaran proses panen sekaligus meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.
Salah seorang petani, Tamrin, warga Dusun Dorowati, Desa Penaganratu, Kecamatan Abung Timur, mengungkapkan bahwa saat ini petani menghadapi kendala serius, terutama dalam hal tenaga kerja pengangkut hasil panen.
“Untuk pekerjaan seperti menyiangi atau memupuk masih ada tenaga kerja. Tapi untuk kuli panggul sangat sulit. Karena itu kami membutuhkan alat bantu seperti grab loader agar panen bisa lebih cepat,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, penggunaan alat angkut modern akan sangat membantu mempercepat distribusi hasil panen dari lahan ke kendaraan, sehingga mengurangi risiko keterlambatan.
Selain alat angkut, kebutuhan lain yang mendesak adalah pompa air. Petani mengkhawatirkan dampak musim kemarau yang mulai terasa, terutama terhadap ketersediaan air untuk lahan.
Hal senada disampaikan Arsad, petani asal Desa Isorejo, Kecamatan Bungamayang. Ia menilai pompa air menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kondisi tanaman, terutama saat curah hujan mulai menurun.
“Kami akan masuk musim panas. Kalau saat panen nanti kekurangan air, tentu akan menyulitkan, bukan hanya untuk panen, tapi juga untuk persiapan tanam berikutnya,” katanya.
Meski demikian, Arsad menyebut komoditas tebu saat ini cukup menjanjikan. Harga panen yang relatif stabil serta keuntungan yang dirasakan membuat banyak petani mulai beralih ke tanaman tebu.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, termasuk Prabowo Subianto, atas berbagai program yang dinilai mendorong peningkatan kesejahteraan petani.
“Program yang ada sangat membantu. Kami berharap ke depan dukungan terhadap petani semakin besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program perluasan lahan tebu atau bongkar ratoon tengah digencarkan. Saat ini, luas lahan yang masuk program mencapai sekitar 350 hektare, meningkat signifikan dibanding sebelumnya yang hanya sekitar 150 hektare.
Peningkatan ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap budidaya tebu, sekaligus menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian di Lampung Utara.
Para petani berharap, dengan dukungan alsintan yang memadai, potensi tersebut dapat dimaksimalkan sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.***




















