INSIDE POLITIK— Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyerukan kepada seluruh bupati dan wali kota di Provinsi Lampung untuk memperketat pengawasan terhadap dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ajakan tersebut disampaikan sebagai bentuk upaya memastikan seluruh pelaksana program di tingkat daerah benar-benar mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan, guna mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) yang dapat membahayakan penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah.
Dalam arahannya, Gubernur Mirza menekankan pentingnya disiplin dan konsistensi dalam menjalankan SOP di setiap titik produksi makanan bergizi. Menurutnya, program MBG yang dijalankan sejak awal tahun 2025 ini telah menyalurkan jutaan porsi makanan sehat kepada pelajar di seluruh kabupaten dan kota di Lampung, dan terbukti aman selama tujuh bulan pertama pelaksanaannya.
“Selama tujuh bulan pelaksanaan, tidak pernah tercatat adanya kejadian luar biasa. Ini bukti bahwa protokol keamanan pangan MBG berjalan baik dan efektif. Namun, pada Agustus hingga September kami mencatat tujuh KLB yang sebagian besar terjadi di dapur baru yang belum sepenuhnya mematuhi SOP,” tegas Mirza.
Gubernur menilai, kejadian tersebut menjadi pembelajaran penting bagi seluruh penyelenggara dan pengelola dapur MBG di daerah. Ia menegaskan bahwa permasalahan yang muncul bukan berasal dari sistem atau konsep program, melainkan dari lemahnya kedisiplinan pelaksana di lapangan yang mengabaikan atau tidak menjalankan prosedur dengan benar.
“Selama protokol dan SOP dijalankan dengan tepat, program ini sepenuhnya aman. Tapi jika ada satu saja prosedur yang dilanggar, maka risiko bisa muncul. Karena itu saya minta semua pihak—dari kabupaten hingga desa—lebih ketat lagi dalam melakukan pengawasan,” ujarnya menambahkan.
Dalam kesempatan yang sama, Mirza juga mengungkapkan bahwa pemerintah provinsi akan memperkuat kerja sama lintas instansi, termasuk dengan Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, dan lembaga pengawasan pangan, untuk memastikan seluruh dapur MBG di wilayah Lampung beroperasi sesuai standar. Ia meminta agar pengawasan dilakukan secara berlapis, mulai dari tahap pengadaan bahan pangan, proses memasak, hingga pendistribusian makanan ke penerima manfaat di sekolah.
Lebih lanjut, Gubernur juga menyoroti pentingnya edukasi bagi tenaga pengelola dapur MBG agar mereka benar-benar memahami prinsip sanitasi, higienitas, serta cara penyajian makanan yang sesuai standar gizi. Ia menilai, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan dan keamanan program ini.
“Jangan sampai ada lagi dapur yang beroperasi tanpa pemahaman penuh terhadap SOP. Pemerintah daerah harus aktif memberikan pelatihan dan pendampingan agar semua pelaksana memiliki standar kompetensi yang sama,” tegasnya.
Selain fokus pada aspek keamanan pangan, Gubernur Mirza juga menyinggung pentingnya penerapan konsep circular economy atau ekonomi sirkular dalam program MBG. Menurutnya, pengelolaan limbah dari dapur MBG—seperti sisa bahan pangan organik—dapat diolah kembali menjadi pupuk kompos yang berguna untuk pertanian lokal. Dengan begitu, program MBG tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan anak-anak, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.
“Kalau pengawasan SOP berjalan ketat dan sistem ekonomi sirkular diterapkan, program MBG akan menjadi contoh nasional bagaimana pelayanan gizi bisa berjalan berkelanjutan dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Gubernur juga menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan pelayanan dasar bagi generasi muda. Karena itu, ia meminta seluruh kepala daerah untuk menempatkan pengawasan dapur MBG sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan sosial dan kesehatan masyarakat.
“Program ini bukan sekadar memberi makan, tapi investasi masa depan bangsa. Anak-anak yang sehat dan bergizi baik adalah modal pembangunan jangka panjang. Karena itu, saya minta semua kepala daerah menjaga amanah ini dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.***




















