EDITORIAL
INSIDE POLITIK- Terhitung sejak Presiden Prabowo Subianto menggalakkan janji kampanye Program Makan Bergizi Gratis menyentuh seluruh anak-anak di pelosok Indonesia dan sejak perang Timur Tengah menggelegar tanpa ujung hingga polemik Selat Hormuz mengemuka, terhitung sejak saat itu Indonesia mengalami tekanan ekonomi hingga terjadi fluktuasi demokrasi yang menekan pemerintahan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.
Enggak tanggung-tanggung, isu yang pengamat munculkan mulai dari makar untuk pemakzulan hingga pemilu ulang tahun 2027. Bahkan narasi-narasi tragedi 98 akan segera terulang pun bermunculan di beranda digital.
Pertanyaannya, mampukah Prabowo Subianto menahan diri atas gelombang kritik dengan tetap fokus bekerja tanpa harus sering berpidato untuk menjawab tekanan publik?
Ya, bekerja saja. Fokus bekerja menekan anjloknya rupiah demi stabilitas ekonomi dan demokrasi yang kian hari semakin memanas dan menjadi material inti tekanan demokrasi terhadap pemerintah.
Sebab Joko Widodo telah menunjukan kepada masyarakat Indonesia tentang bagaimana sosok pemimpin yang tampil di tengah tekanan global.
Kala itu, pada periode kedua pemerintahannya– Covid-19 melanda seluruh dunia dan di tengah giat-giatnya pembangunan atas dana pinjaman, pemerintah harus memilih lockdown dengan berbagai skema dan levelnya dalam 2-3 tahun.
Tanpa tragedi penyiraman air keras, kriminalisasi dan intimidasi terhadap jurnalis yang kritis– Joko Widodo dengam menteri-menterinya mampu keluar sebagai pemimpin yang lahor di tengah kondisi sulit.
Bahkan, dengan keadaan gelap Covid-19– Rezim Jokowi-Amin mampu memberikan peluang digitalisasi ekonomi yang hingga hari ini manfaatnya terasa bagi seluruh tanah air. ***



















