INSIDE POLITIK – Gelombang perlawanan di tanah Lampung mulai menunjukkan intensitas yang semakin nyata. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Lampung, bersama seluruh Pimpinan Cabang (PC) IPNU se-Provinsi Lampung, resmi mengeluarkan instruksi wajib terkait konsolidasi aksi besar yang akan digelar pada 1 September 2025 mendatang. Instruksi ini menjadi pedoman mutlak bagi seluruh kader hingga ada arahan lanjutan dari PWNU.
Dalam rapat koordinasi yang digelar secara tertutup beberapa waktu lalu, PW IPNU menekankan lima poin penting yang wajib dipatuhi seluruh pengurus dan anggota IPNU di setiap cabang:
1. Mengikuti penuh instruksi dari PP IPNU, sebagai bentuk loyalitas dan konsistensi organisasi dalam menyikapi situasi nasional.
2. Turun ke jalan pada aksi 1 September bersama elemen Cipayung+ dan berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya untuk menyuarakan keadilan dan hak-hak rakyat.
3. Menggelar doa bersama serta menyalakan lilin di setiap cabang sebagai simbol solidaritas bagi korban-korban demonstrasi yang telah berjatuhan akibat tindakan represif aparat.
4. Setiap cabang IPNU wajib mengirimkan minimal 10 anggota untuk bergabung dalam aksi massa, memastikan kehadiran dan dukungan nyata dari seluruh wilayah Lampung.
5. Menegaskan sikap organisasi bahwa IPNU Lampung tidak akan tinggal diam terhadap jatuhnya korban jiwa dan pembungkaman aspirasi masyarakat, serta akan terus memperjuangkan hak rakyat secara damai dan konstitusional.
Menurut Ketua PW IPNU Lampung, instruksi ini bukan sekadar seruan formal, melainkan bentuk komitmen moral organisasi untuk berdiri teguh bersama rakyat. “Doa dan lilin memang simbolik, tetapi aksi nyata di jalan menunjukkan bahwa pelajar NU tidak hanya peduli, tetapi juga berani bersatu menyuarakan keadilan. Setiap nyawa yang hilang adalah panggilan bagi kita semua untuk bergerak,” tegasnya.
Selain aksi jalanan, PW IPNU Lampung juga menyiapkan rangkaian kegiatan pendukung di tingkat cabang, seperti forum diskusi, edukasi demokrasi, dan advokasi publik. Kegiatan ini bertujuan membekali para kader dengan pemahaman hak dan kewajiban konstitusional, serta memperkuat solidaritas antaranggota organisasi.
Momentum 1 September diprediksi akan menjadi titik konsolidasi terbesar di Lampung sejak beberapa tahun terakhir, di mana IPNU akan berbaris bersama pelajar, mahasiswa, dan masyarakat sipil lainnya. Aksi ini direncanakan tidak hanya sebagai bentuk protes, tetapi juga sebagai pernyataan sikap kolektif menolak kebungkaman dan tindakan represif terhadap warga negara.
“Pesan yang ingin kami sampaikan jelas: rakyat yang bersatu tidak bisa dikalahkan. IPNU Lampung berdiri tegak, bukan hanya sebagai organisasi pelajar, tetapi sebagai bagian dari gerakan moral dan sosial yang menuntut keadilan,” ujar Ketua PW IPNU Lampung menutup pernyataannya.***




















